Pagi ini saya (masih) merasakan efeknya. Setelah saya ingat-ingat, ada tamparan serupa yang saya rasakan beberapa bulan sebelum pandemi Covid-19. Ada baiknya saya ceritakan secara kronologis. Tamparan pertama kemudian tamparan terbaru, tadi malam.
Saat itu saya sedang membantu menyiapkan sebuah tasyakuran kecil di rumah kakak saya, Mbak Sri. Event-nya nunut pengajian PKK RT. Kakak saya ini menempati rumah orang tua kami (almarhum) di Surabaya, saya tinggal di Sidoarjo. Rumah masa kecil saya.
Seperti biasa, saya suka berada di dapur. Ada tiga ibu-ibu yang membantu menyiapkan makanan. Usianya sebelas-dua belas dengan saya. Sambil tangan ini lincah memotong-motong lontong, telur, menyiapkan kentang, dan sebagainya mulut kami tak berhenti bicara. Khas emak-emak. Continue reading “Pernakah Kau Merasa Ditampar?”


Beberapa tahun yang lalu saya menulis biografi kepala sekolah saya. Saat itu, beliau hendak purna tugas dan saya ingin menghadiahi sebuah buku. Pilihan saya jatuh pada biografi. Beliau adalah kepala sekolah yang dicintai sekaligus disegani. Ia sangat dekat dengan bawahan. Kemampuannya menjalin silaturahim patut diacungi jempol. Tak jarang ia berkunjung ke rumah para pegawai teknis seperti cleaning service, satpam, dan sebagainya. Meskipun demikian, ia bisa sangat tegas. Di zamannya, banyak siswa dan guru meraih prestasi.