Manusia Yang Menciptakan Tuhan

Nggak kebalik nih, pikir saya begitu mendengar judul kajian hari ini. Ternyata tidak sama sekali.  Banyak sekali tipe manusia yang dibahas dalam Alquran. Salah satunya manusia yang menciptakan tuhan. Sebelum mendalami manusia pembuat tuhan ini, ada baiknya kita memahami istilah tuhan itu sendiri.

Ilaah vs Allah

Dalam bahasa Arab,  tuhan itu Ilaahun. Zat yang diagungkan, zat yang dipuja-puja, bahkan zat yang disembah itu adalalah ilaah. Ilaah digunakan baik untuk tuhan yang haq maupun tuhan yang bathil.  Tuhan yang haq misalnya ilaahuna Allah,  laa ilaaha illallahu yang artinya tidak ada tuhan selain Allah. Nama tuhan yang bathil juga ilaah. Lalu, apa bedanya dengan Allah? Allah adalah nama tuhan yang haq.

 Orang musyrik jahiliyah pun bisa memahami perbedaan ini. Kalau mereka ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, pasti mereka menjawab Allah (QS. Az Zukhruf:87) Jadi, mereka tahu Allah itu tuhan yang haq, ilaah itu tuhan palsu alias tuhan-tuhanan. Sayangnya, saat ini kita sering dikacaukan dengan tuhan-tuhan yang lain, bahwa tuhan itu sama. Tuhan pemeluk agama Hindu, Sang Hyang Widhi itu ya Allah, Yesus ya Allah itu. Padahal kenyataannya berbeda. Jadi, mereka yang beranggapan demikian berarti tidak lebih cerdas dari orang jahiliyah.

Sementara itu, robbul, dalam bahasa Indonesia belum mendapat padanannya. Robbul bait berarti  pemilik rumah atau tuan rumah. Di salah satu radio Mesir ada program khusus untuk ibu-ibu bernama robbatul buyuut artinya para pendidik anak-anak di rumah. Sehingga,  makna robbul ini bisa tuan sekaligus tuhan. Contohnya, robbus samawati wal ard yang artinya pemilik sekaligus tuhan langit dan bumi.

Juga bermakna penata, penjaga, pelindung jika itu robbun. Rububiyah robbun bisa kita indra di dalam diri kita sendiri. Mekanisme yang ada dalam diri kita itu rububiyah Allah. Kita bisa berbicara, mendengar, makan, itu semua rububiyah Allah.  Bukan kita yang mengatur, bukan orang tua kita yang mengatur. Maka, sebelum mengenal Allah, idealnya kita mengenal rububiyah Allah.

Ayat yang turun pertama kali adalah Iqra’ bis mirobbiik —bukan iqra bismillah— bacalah rububiyah Allah melalui rububiyah Allah.  Dalam QS. An Nas kita mengenal Allah mulai dari qul audzu birabbin nas, yang mencipta, yang menghidupkan, yang memberikan kehidupan dan penghidupan. Karena luar biasa ciptaanya, dia itu malikunnas raja diraja manusia. Karena tidak ada batasnya maka dia itu ilaahunnas. Jadi mengenal ilaah, Allah, idealnya rububiyah dahulu, kemudian mulukiyah dan ditarik kesimpulan induktifnya adalah ilaahunnas. Ilaah ada yang haq dan ada yang bathil. Yang haq adalah Allah.

Sekali lagi, Allah itu tuhan yang haq pencipta langit dan bumi. Allah tidak boleh digunakan untuk tuhan yang lain. Allahu ilaahi—artinya Allah tuhanku. Ilaah boleh untuk yang haq dan bathil.

Lalu, siapa manusia yang dimaksud sebagai manusia yang menciptakan tuhan? Mereka adalah manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Sebagaimana diabadikan Allah dalam QS. Al Jaziyah (45) ayat 23-24. Nabi Muhammad SAW dan umatnya ditanya pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Mempertuhankan hawa nafsu yang dimaksud adalah ketika seseorang itu tunduk patuh secara mutlak kepada apapun dan siapapun. Yang terjadi pada orang seperti ini adalah Allah membiarkannya sesat meskipun mereka berilmu  dan Allah telah menutup rapat pendengaran, akal pikiran/otak dan penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka tidakkah kamu berpikir?

Konteks historis ayat ini adalah orang-orang Mekkah dulu menyembah patung tertentu. Ketika lain hari ada patung yang lebih hebat mereka akan beralih pada patung tersebut. Mereka ini sebenarnya mengenal Allah—Tuhan yang haq tapi mengapa mereka menyembah patung?  Mereka berkelit dengan mengatakan mereka tidak menyembah patung. Patung tersebut hanya sebagai media untuk mendekatkan pada Allah. Ia hanya sebagai wasila atau perantara saja.

Namun pada kenyataannya mereka begitu memuja dan memuliakan patung-patung tersebut. Mereka telah menganggapnya Tuhan. Dan Tuhan mereka berganti-ganti. Di antara orang nasrani pun, ada yang mempertuhankan pendeta dan pastur. Mereka begitu tunduk dan patuh. Kalau sudah seperti ini, Allah akan menutup rapat-rapat pendengaran, akal pikiran, dan penglihatan mereka. Lalu, siapa yang akan memberi petunjuk? Tidakkah kamu berpikir?

Di ayat 24 mereka menjawab. Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja. Kalau mereka mati karena peredaran  masa saja. Padahal, mereka ini tidak memiliki ilmu yg benar dan mereka hanya menduga saja.

Memang, Allah itu supranatural sehingga untuk mengenalnya harus mengenal ciptaannya.  Contoh  ketika kita terluka. Ada sistem tersendiri dalam tubuh kita untuk menutup luka itu. Pandemi Covid-19 ini juga menginformasikan bahwa dalam tubuh kita ada tentara untuk menyerang virus yang masuk. Jika imun tubuh kita kuat virus akan dikalahkan. Salah satu tanda penolakan virus dan bakteri yang masuk dengan bersin misalnya.

Contoh lain saat kita memotong pohon misalnya, kulitnya ada yang masih bisa menyambung. Itulah rububiyah, tanda-tanda Allah yang menata, menjaga, dan mengatur. Bahkan batu pun hidup. Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan bahwa batu kerikil itu bertasbih hanya saja kita tidak bisa mendengar. Jika kita bisa melihat maka kita tidak akan bisa tertawa.

Senada dengan hal di atas, QS. Al furqon (25) ayat 43 juga menyinggung tentang manusia yang mempertuhankan hawa nafsunya. Bahkan di ayat 44 Allah menekankan bahwa  orang-orang tersebut seperti halnya binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat.

Dengan kata lain, mempertuhankan hawa nafsu adalah tunduk patuh secara mutlak tanpa reserve kepada siapapun maupun apapun. Menjadi budak dan membuat tuhan baru yang namanya hawa nafsu. Inilah manusia pencipta tuhan. Tuhan-tuhan ciptaannya beragam bentuknya seperti uang, jabatan, wanita, dan sebagainya. Semoga Allah melindungi kita dari perangai tercela seperti ini dan selalu menunjukkan jalan yang lurus agar tetap menuhankan Allah SWT. Aamiin.

 

 

Disarikan dari Kajian Tafsir Prof. DR. H. Moh. Roem Rowi, MA. untuk Pegawai YLPI Al Hikmah Jumat,  2 Oktober 2020

Sidoarjo, 3 Oktober 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.