Manusia Anjing

Disarikan dari Kajian Tafsir Prof. DR. H. Moh. Roem Rowi, MA. untuk Pegawai YLPI Al Hikmah.

Jumat, 11 Sept 2020

Tema kajian kali ini sangat menarik. Manusia anjing.

Apa dan bagaimana manusia anjing ini, Prof. Roem merujuk pada QS. Al A’raf ayat 175-179.

Ayat 175 menceritakan tentang orang yang telah diberi petunjuk namun dia meninggalkannya. Kemudian, setan mengikuti, menggoda, merayu, dan akhirnya memperdayanya hingga ia terperosok menjadi ghowiin alias orang yang tersesat.

Ayat 176 menggambarkan jika Allah ingin meninggikan derajat seseorang namun orang tersebut terpesona, tergoda, dan jatuh cinta pada kenikmatan dunia. Ia hanya mengikuti hawa nafsunya. Hawa nafsu telah menjadi Tuhan baginya. Orang seperti ini diumpamakan serupa anjing.

Inilah manusia anjing.

Anjing akan menjulurkan lidahnya keluar. Dibentak atau dibiarkan tetap akan menjulurkan lidahnya. Betapa hinanya manusia yang sudah mendapat petunjuk Allah kemudian meninggalkan dan menjualnya murah dengan materi dunia.

Untuk itulah Allah meminta Muhammad mengisahkan hal tersebut agar mereka mau memfungsikan akalnya untuk berpikir.

Orang-orang yang tidak mau berpikir ini sebenarnya telah berlaku zalim pada dirinya sendiri sebagaimana diberitakan dalam ayat selanjutnya, 177.

Padahal, kalau ia mau memfungsikan otak/akalnya untuk berpikir, ia akan mendapat hidayah. Orang yang mendapat hidayah adalah orang yang beruntung.
Sebaliknya, orang yang tersesat adalah orang yang merugi sebagaimana bisa dilihat di ayat 178. Salah satunya manusia anjing.

Lalu, siapa orang yang digambarkan seperti anjing di atas?

Menariknya, nama orang, tempat, dan waktu tidak pernah disebutkan secara definitif dalam Alquran. Qorun contohnya. Anak siapa, lahir di mana, dan sebagainya tidak disebutkan secara detail. Contoh lainnya Firaun. Tidak disebutkan Firaun ke berapa. Padahal banyak Firaun, kan.

Mengapa demikian? Tujuannya agar Alquran bersifat umum. Pelajarannya berlaku universal. Tidak terikat pada individu, tempat, dan waktu tertentu.
Ketiga hal tersebut ditengarai bisa memengaruhi dan merusak akidah.

Misal, jika tempat disebutkan secara detail tentu orang akan mengeramatkan. Begitu juga dengan figur tertentu, orang akan mengkultuskan. Pun dengan waktu, orang akan mengistimewakan. Semua akan mengarah pada kemusyrikan.

Hanya ada dua figur yang disebut secara detail dalam Alquran. Isa putra Maryam dan Maryam anak perempuan Imron. Isa disebutkan sebagai putra Maryam untuk menunjukkan bahwa Isa bukan anak Tuhan. Maryam itu manusia biasa dan punya ayah yang bernama Imron.

Namun demikian, terkait kisah manusia anjing di atas, ada beberapa pendapat. Salah satunya adalah Ibnu Abbas yang menyebutkan nama Bal’am bin Baurah.
Ada yang mengatakan tidak menyebut nama namun seorang alim dari Bani Israil yang bertempat tinggal di Yaman. Doanya selalu makbul.

Suatu hari, ia diutus Nabi Musa untuk menghadap Raja Madyan di timur Palestina untuk mendakwahkan ajaran Musa. Yang terjadi justru sebaliknya. Dia tertarik dengan rayuan Raja Madyan. Ia meninggalkan ajaran Nabi Musa karena iming-iming jabatan dan harta benda oleh Raja Madyan. Karena sikap seperti itu maka nilainya tak lebih dari seekor anjing.

Dalam kasus ini, Bal’am pun tidak digambarkan secara detail dengan tujuan menjaga nilai universal.

Kalau ditarik di zaman sekarang, barangkali banyak Bal’am serupa atau bahkan yang lebih parah darinya. Merekalah para penghuni neraka.

Ternyata mayoritas bahan bakar neraka adalah jin dan manusia. Ayat 179 menggambarkan hal ini. Penyebabnya adalah karena mereka memiliki akal/otak tapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Allah memberi mata namun tidak digunakan untuk melihat, mencermati, meneliti ayat-ayat Allah. Mereka diberikan telinga namun tidak digunakan untuk

mendengarkan petunjuk Allah, nasihat para ulama, nabi dan rasul. Orang semacam ini tempatnya di jahaman. Gambaran mereka ini adalah an ‘am atau binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat daripada binatang ternak.

Meskipun tak berakal, binatang ternak hanya mengambil yang dibutuhkan, tidak berlebihan. Berbeda dengan manusia.
Rakus.

Demikian inti sari QS. Al A’raf: 175-179. Semoga menjadi pelajaran bagi kita. Semoga Allah selalu memberikan hidayah dan menjauhkan kita dari kehinaan sebagaimana tipikal manusia anjing dan binatang ternak di atas. Aamiin Ya Robbal Alamiin

Semoga bermanfaat.
Sidoarjo, 12 September 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.