Pagi-pagi sekali saya mendapat berkah karena Ustad Rofi’i, musyrif—sebutan untuk guru wali di asrama—mengirimi sebuah foto. Foto ini menggambarkan seorang remaja laki-laki berseragam SMP sedang tersenyum. Foto lainnya, ia bersama beberapa temannya sedang bercanda. Tampak sumringah di wajah mereka.
Anak muda itu putra ketiga saya yang sedang mondok nun jauh di sana. Bersama ratusan teman sebaya dari seluruh penjuru kota di Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan ada yang berasal dari negara lain. Cina, Taiwan, Qatar untuk menyebut beberapa.
Di ketinggian kota Malang, mereka menderaskan ayat-ayat Alquran di antara sejuknya hawa pegunungan. Terkadang di atas gazebo dengan menatap gemintang. Atau di beranda masjid yang lantainya sedingin es batu itu. Memenuhi ruangan asrama dengan canda tawa. Berdiri di sepertiga malam saat penghuni alam lain nyenyak dalam lelapnya. Merapalkan doa-doa. Menembus langit dan mengirimkan sebutir kerinduan pada orang tua.
Ia telah memilih jalannya. Jalan yang berbeda. Saat ia mengutarakan niatnya untuk mondok, kami sangat terkejut. Kami tidak punya persiapan apa-apa. Kami tidak pernah mengenalkan kehidupan pondok sebelumnya. Butuh beberapa saat hingga kami memutuskan mengabulkan permintaannya. Terutama saya. Abinya—karena lelaki—mungkin lebih tega dibanding saya. Apalagi dia termasuk anak yang sedikit ringkih. Sakit-sakitan.
Namun Allah sudah memilihnya. Ia menyambutnya. Kami tak bisa menahannya. Rasanya baru kemarin. Sekarang sudah memasuki tahun ketiga. Di ketinggian kota Malang, ternyata fisiknya lebih bugar. Pikirannya lebih segar. Pun menyadarkan saya, pilihannya tak salah.
Setiap bulan kami menjenguknya. Setiap kunjungan menyimpan cerita. Dari derit kereta sampai petik apel di kebun orang. Sebisanya kami mengajak keluar atau sekadar menikmati jajanan di alun-alun kota Batu. Di setiap langkah berbuncah doa.
Karena Corona, semua wali santri harus bersabar. Tak ada kunjungan. Kami percaya, di sana ia lebih terjaga. Duhai sayang, semoga engkau selalu sehat. Semoga barakah safarmu dalam menuntut ilmu. Turuti selalu nasehat para ustadmu sebab merekalah penjagamu. Dari tangan merekalah kau mendapat ilmu. Dari hati merekalah kau peroleh hikmah. Maka, buncahkanlah doa bagi mereka.
Pagi tadi, Ustad Rofi’i, sang musrif mengirim foto. Entah mengapa setiap memandang wajah di foto itu, ada desiran di dada. Siang ini pun masih tersisa desiran yang sama.
Rindu.
