Menulis Biografi

Beberapa tahun yang lalu saya menulis biografi kepala sekolah saya. Saat itu, beliau hendak purna tugas dan saya ingin menghadiahi sebuah buku. Pilihan saya jatuh pada biografi. Beliau adalah kepala sekolah yang dicintai sekaligus disegani. Ia sangat dekat dengan bawahan. Kemampuannya menjalin silaturahim patut diacungi jempol. Tak jarang ia berkunjung ke rumah para pegawai teknis seperti cleaning service, satpam, dan sebagainya. Meskipun demikian, ia bisa sangat tegas. Di zamannya, banyak siswa dan guru meraih prestasi.

Biografi itu saya tulis dalam beberapa bulan. Ketika purna tugas benar-benar datang, biografi  tersebut selesai cetak. Biografi berjudul Gatot Sulanjono, Pendidik Cerdas Pemimpin Tangkas dibagikannya pada para guru dan kolega. Kadang ketika ada tamu penting yang datang, biografi itu berpindah tangan. Sebagai orang di balik biografi itu, tentu saya merasa senang. Rasa percaya diri itu melahirkan biografi-biografi lainnya. Namun, tidak semuanya sukses. Ada yang karena suatu hal, biografi tersebut mandek pengerjaannya.

Saya senang membaca biografi orang-orang terkenal. Lebih senang lagi mempelajari bagaimana penulis biografi menuliskannya. Salah satu idola saya adalah Ramadhan K.H. Salah satu bukunya Kuantar Ke Gerbang berisi kisah cinta Bung Karno pada Inggit Garnasih sempat memikat saya. Saya juga menikmati karya-karya Alberthiene Endah yang lebih dikenal sebagai penulis biografi para selebriti. Menurut saya, ia sangat istimewa karena bisa beralih dari satu gaya ke gaya yang lain. Ketika ia menulis biografi Ken & Kas Kus misalnya, ia bisa begitu meremaja a la Kean Dean Lawadinata. Sebaliknya, saat ia menulis The Passion of My Life, biografi Pak Ci atau Ciputra ia bertutur dengan cara berbeda.

Saat ini, saya sedang menggarap biografi seseorang. Di sela-sela mentranskrip hasil wawancara,  saya buka kembali catatan menulis biografi yang saya simpan. Saya terjemahkan dari https://www.wikihow.com/Write-a-Biography. Barangkali bermanfaat buat sahabat semua.

 

Sebelum menulis biografi, pastikan sudah ada izin dari orang yang akan kita buat biografinya. Kalau nggak, ini bisa jadi ilegal. Kalau orang tersebut yang meminta kita menuliskan kisahnya, akan lebih baik lagi.

Pertama, melakukan riset. Riset bisa ditempuh dengan membaca buku-buku, majalah, surat kabar, dan hal-hal yang terkait dengan subjek yang kita tulis. Zaman ketika dia hidup, kondisi sosial ekonomi budaya dan kemasyarakatan saat itu. Kemudian, kita lakukan wawancara. Libatkan orang-orang terdekatnya. Bisa keluarga, teman kecilnya, teman sekolah sampai kuliah, teman kerja, teman organisasi, dan sebagainya. Semakin banyak narasumber dan semakin detil pertanyaan yang kita ajukan semakin banyak bahan menulis. Jangan lupa merekam dan segera mentranskripnya.

Setelah itu, agendakan meninjau lokasi agar merasakan atmosfir yang ada pada saat menuliskannya nanti. Biar dapat feeling-nya. Bisa tempat dia dilahirkan, sekolahnya, tempat kerja awal, dan sebagainya. Napak tilas bahasa gampangnya. Selanjutnya buat timeline. Ini untuk memudahkan kita menulis jejak hidup sang subjek.

Kedua, menulis biografi itu sendiri. Kita bisa menulis secara kronologis. Artinya, kita mulai dari kelahirannya, masa kecil, masa remaja, masa dewasa sampai kondisi saat ini. Jika klien masih hidup bisa kita tuliskan perannya saat ini. Jika subjek telah meninggal, kita bisa tuliskan informasi tentang kematiannya. Selain kronologis, kita bisa menggunakan flashback. Artinya, kita berangkat dari kondisi saat ini kemudian kembali ke masa lampau. Gaya ini terserah kita atau klien yang meminta. Yang pasti gunakan hasil wawancara sedemikian rupa agar apapun gaya penulisan yang kita pakai terasa mengalir dan nyata.

Fokus pada kejadian-kejadian utama atau yang menjadi tonggak sejarah kehidupan seseorang. Bisa kelahiran, pernikahan, keberhasilan dalam sekolah, bisnis pertama, kebangkrutan, dan kematian. Selanjutnya, tema. Artinya, biografi membawa tema tertentu. Segala hal yang kita tulis harus mengarah pada tema utama biografi itu sendiri. Apakah boleh kita memasukkan opini kita pada biografi yang kita tulis? Setelah kita mempelajari banyak hal tentang orang tersebut, rasanya sah-sah saja kita ikut menyumbangkan pendapat kita.

Ketiga, memoles biografi. Setelah draft biografi selesai, kita bisa tunjukkan pada klien. Apakah biografinya sudah enak dibaca dan sesuai dengan harapan? Kita harus terbuka terhadap feedback karena itu yang akan membuat tulisan kita berkembang. Langkah berikutnya, proofread. Kita teliti kembali ejaan, tata bahasa, pengucapan, dan sejenisnya. Bagaimanapun juga kalau tulisan kita penuh dengan kesalahan pada tata bahasa juga nggak elok. Terakhir, jangan lupa menyertakan sumber informasi yang kita gunakan dalam menulis biografi tersebut. Termasuk orang-orang yang kita wawancarai sebelumnya.

Itulah kawan beberapa tips yang bisa kita gunakan saat kita menulis biografi. Suatu saat saya ingin menulis biografi saya sendiri sebagaimana Mohammad Hatta menulis otobiografinya Untuk Negeriku atau Wardiman Djononegoro dengan Sepanjang Jalan Kenangan-nya.

Semoga.

 

Sidoarjo, 5 September 2020

4 Replies to “Menulis Biografi”

Leave a Reply

Your email address will not be published.