Memasak dan Menulis

Rawon Pak Pangat yang maknyus… (Dokumen Pribadi)

Ada dua hal yang belum bisa saya lakukan sampai saat ini. Memasak dan menulis selain kenangan bersama almarhum Abi. Entahlah, sepeninggal beliau saya sangat enggan memasak. Padahal, memasak adalah hal yang tidak pernah absen saya lakukan selama ini. Bagi saya, memasak lebih dari sekadar kewajiban seorang istri dan ibu. Ia adalah perwujudan cinta. Apalagi jika hasil masakan habis sempurna alias ludes tak tersisa. Tanyalah pada semua ibu di dunia ini. Pasti ada kenikmatan tersendiri.

Dari sisi kesehatan, memasak sendiri tentu lebih terpercaya. Kita bisa memastikan kehalalan bahan,  kebersihan alat, higienisnya sebuah masakan. Pun dari kesehatan keuangan, memasak sendiri tentu lebih hemat. Apalagi a big family seperti keluarga saya. Kalau tidak memasak, tentu bisa dibayangkan berapa rupiah yang harus kami keluarkan hanya untuk urusan perut. Jadi, ditinjau dari berbagai sisi memasak benar-benar sebuah keharusan. It is a MUST.

Sebagaimana ibu-ibu yang lain, saya terbiasa bangun pukul 3 dini hari. Salat lail, memasak nasi, mencuci pakaian, menyiapkan sarapan, dan sejenisnya. Semuanya dilakukan secara simultan. Khas perempuan lah…multi tasking. Meskipun semuanya dilakukan lebih mudah sekarang karena serba otomatis, kami tetap menyebutnya sebagai kitchen-panic di pagi hari. Apalagi ketika anak-anak masih kecil. Rasanya tangan dan mulut ini diciptakan berkolaborasi untuk memulai hari. Mengorkestrasikan semua yang ada. Sebagai perempuan, saya begitu menikmatinya.

Saya mencoba menganalisis kira-kira apa penyebab saya enggan memasak. Barangkali karena terlalu banyak kenangan yang saya simpan di dapur. Ketika hendak mengulek bumbu misalnya, saya jadi ingat almarhum Abi yang selalu turun tangan menggilas bumbu-bumbu di atas cobek itu dengan seksinya. Apalagi kalau membuat sambal, racikannya pas. Antara cabe, bawang merah, bawang putih, tomat, garam, terasi semua berkolaborasi menyumbang rasa.

Abi saaangat suka membuat kolak kacang hijau. Kalau ingat kacang hijau ini saya malu. Ketika masih  pengantin baru dulu, kami pindah rumah ke kontrakan. Sehari setelahnya,   saya membuat kolak kacang hijau. Dengan pede-nya saya bagikan ke tetangga terdekat. Yah, hitung-hitung perkenalan lah. Sewaktu Abi pulang kerja, tentu saja saya menyambutnya dengan kolak tersebut. Tahu apa reaksinya?

“Dek, kayaknya ini kurang matang. Lihat, hijaunya masih mengkilat. Coba pegang, masih keras,” katanya.

“Masak sih Mas, lama lho aku masaknya, “ jawab saya tidak terima. Lebih dari satu jam saya memasaknya.

“Sudah direndam?” tanyanya kemudian.

“Nggak,” jawab saya enteng.

Abi kemudian menjelaskan bahwa untuk memasak kacang hijau harus direndam dulu. Kira-kira 30 menit- 1 jam. Kemudian baru direbus, ditambah pandan agar wangi. Jangan diberi gula sebelum benar-benar matang. Ciri kacang hijau yang sudah matang biasanya akan pecah. Empuk. Setelah itu baru diberi gula, santan.

Saya percaya karena Abi lebih berpengalaman. Anak kos. Waktu itu, internet belum semasif sekarang. Belum mengenal cookpad. Belum kenal juga metode 7-30-5 yang biasa digunakan untuk memasak dan menghemat gas.

“Waduh… berarti aku tadi bagikan kacang hijau ke sebelah rumah itu masih mentah ya, Mas?” tanya saya. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya tidak membutuhkan jawaban. Silly question.

Sejak saat itu, saya banyak belajar memasak sampai akhirnya jatuh cinta. Tiada hari tanpa memasak.

Abi itu seorang pelindung. Bahkan di dapur sekalipun. Saat saya hendak menggoreng ikan, ia tidak akan membiarkan minyak panas itu menyiprat ke kulit saya. Menyakiti saya.

“Sini, serahkan pada ahlinya,”katanya ketika saya tampak mulai menjauh dari penggorengan. Dengan sigap diambilnya serok dan spatula. Bak chef profesional, ia menaklukkan letupan minyak yang semakin panas tersebut. Hasil gorengan ikannya selalu mantap. Bumbunya meresap, matang merata, luar dalam. Garing dan renyah. Kriuk namun lembut daging ikannya tetap terasa. Matang sempurna.

Saat memotong-motong sayur pun saya selalu ingat Abi. Abi sangat suka sayur bening alias tidak bersantan. Sayur sop, sayur asem, sayur bayam, dan sebagainya. Kalau yang ini, Abi agak anti mainstream. Untuk membuat sayur asem misalnya, ia akan memasukkan sayur apapun yang ada di dalam kulkas. Pernah saya memprotesnya ketika memasukkan wortel ke dalam sayur asem. Setahu saya, wortel untuk sayur sop bukan sayur asem. Ibu saya dulu memasak sayur asem ya terdiri dari kacang panjang, kangkung, kol, timun krai, kadang daun so.  Hanya itu sepertinya. Tidak pernah menggunakan wortel.

“Nggak pa-pa, Dek. Lihat saja, nanti kan enak,” kata Abi dengan pede-nya.

Lidah saya tidak bisa menerima saat wortel matang di sayur asem tapi Abi enjoy saja. Setelah sekian lama akhirnya saya terkontaminasi juga. Jadi, menemukan wortel di sayur asem sudah bukan hal aneh bagi kami. Apalagi kalau tahu sayur asem Jakarta, semua sayur dimasukkan. Nangka muda, daun belinjo, jagung, kol, kacang panjang, daun salam, labu siam, dan masih banyak lagi. Hhhh….

Tidak menunggu lama. Segera setelah semua matang, dipanggillah anak-anak untuk menikmati hasil masakannya. Nasi yang masih mengepulkan uap panas,  sambal, sayur asem,  dan ikan gurih renyah menjadikan dapur ini penuh romansa.

Aah…. sungguh. Saya tak kuasa melawan setiap kenangan. Saya menyerah.  Tak sanggup memasak.

***

Dulu, saya adalah penulis segala. Saya bisa menulis reportase, feature, resensi, esai populer, tulisan ilmiah di jurnal-jurnal, puisi, cerpen. Sejak sepeninggal Abi, sepertinya saya kehilangan semua kompetensi itu. Saya hanya bisa menulis kenangan bersama Abi. Saya merasa sangat bahagia bisa mengingat semua kebersamaan kami. Bisa menuliskannya saja itu sebuah perjuangan bagi saya.

Kadang ada tulisan yang saya tidak sanggup melanjutkannya. Saya tunggu 1 x 24 jam, 2 x 24 jam, barangkali saya mempunyai cukup nyali melanjutkannya. Tetapi tetap saja tak mampu saya lanjutkan. Jantung saya berdegub begitu keras. Menolaknya. Tentu saja bukan tulisan-tulisan yang saya unggah di blog maupun fb ini. Mereka masih saya pendam karena terlalu personal dan emosional. Suatu saat saya akan mengangkat harta karun ini. Entah kapan.

Ada beberapa grup menulis yang saya ikuti. Di grup ini, kami harus menulis paling tidak seminggu sekali. Ada yang mampu setiap hari menghasilkan tulisan. Saya belum bisa. Apalagi akhir-akhir ini. Saya merasa tidak sehat dalam menulis sampai akhirnya saya berkonsultasi dengan Guru Literasi yang juga dosen saya, Pak Khoiri. Saya ingin belajar bagaimana dulu Pak Khoiri menghadapi kenyataan ditinggal wafat putranya, Tegar. Saya juga bilang, kadang saya MALU karena hanya memposting tulisan-tulisan memorabilia tentang Abi.

Kata beliau jika memang itu kondisinya ya tidak apa-apa. Diikuti saja dulu. Mumpung suasananya bagus. Emosi atau mood itu sangat dibutuhkan dalam menulis. Pelan-pelan, nanti akan kembali normal, Insya Allah. Menulis saja. Natural. Tidak perlu malu. Situasi dan kondisi khusus malah menjadi “berkah” bagi penulis.

Ditinggal Tegar, sakitnya istri, anak, dan beliau sendiri menjadi inspirasi menulis buku. Pramoedya Ananta Toer lancar sekali menulis saat di penjara. Artinya, ada suasana khusus yang justru mendukung kreativitas. Asma Nadia menulis novel Emak Naik Haji justru saat penyembuhan dari sakitnya.

Ya Allah…

“Kondisi seperti ini, kalau Herna mau malah bagus untuk membuat karya sastra. Mumpung emosi atau perasaan (otak kanan) sedang kondisi top,” kata beliau kemudian.

Saya sangat berterima kasih atas saran yang diberikan. Saya berharap bisa terus menuliskan kenangan bersama Abi. Menabung tulisan untuk kemudian saya jadikan buku. Saya sudah memutuskan judulnya: Cinta dalam Kenangan.

***

Beberapa hari yang lalu saya mendapat tugas dari atasan membuat dua resume dari video seorang pejabat negara. Dalam hati saya bertanya, mungkinkah ini cara Allah membangkitkan kembali mood menulis saya? Saya ceritakan kalau selama ini ada dua hal yang belum bisa saya lakukan seperti yang saya tulis di atas.

Atasan saya ini mengingatkan kita selalu menasehati siswa bahwa Allah tidak akan menguji suatu kaum di luar kemampuannya. Barangkali sekarang saatnya saya mempraktikkan ayat itu. Beliau juga mengingatkan,  Muhammad akhirnya jadi Rasul setelah masa kecilnya ditinggal ayahnya, Abdullah. Kalau Bunda Aminah tidak tegar, apakah Muhammad bisa setangguh itu?  Bunda Aisyah menjadi sumber ilmu, sumber hadist, rujukan para sahabat setelah wafatnya Rasulullah.

Tiba-tiba mata saya memanas. Bismillah.  Saya berusaha sekuat tenaga melaksanakan tugas tersebut. Atas izin Allah, dan hanya karena kasih sayang Allah saya mampu menyelesaikan tugas tersebut. Itulah dua tulisan pertama saya di luar memorabilia Abi.

Menurut saya, ini sebuah capaian yang luar biasa. Saya merayakannya dengan pergi ke pasar. Membeli daging dan memasaknya. Jadilah rawon, makanan favorit saya. Rawon menjadi masakan pertama saya setelah saya absen di dapur selama ini.  Siang tadi saya juga dikirimi Rawon Pak Pangat karena telah menyelesaikan tugas menulis  di atas. Dua boks karena menulis dua resume. Hehehe….

Alhamdulillah….

Duhai Allah…. terima kasih atas segala karunia yang telah Engkau berikan pada kami. Berikanlah hidayah kepada kami agar selalu berada di jalan-Mu. Matikanlah kami dalam husnul khotimah. Limpahkanlah rahmat dan ampunanmu selalu pada mereka yang telah mendahului kami, orang tua kami dan Abi dalam melalui perjalanan panjangnya. Kumpulkanlah kami di jannah-Mu kelak.  Aamiin…

***

Tunggu ya Allah…

Satu lagi.

Tolong sampaikan salam rinduku pada Abi.

Plis.

 

Sidoarjo, 22 Maret 2021

8 Replies to “Memasak dan Menulis”

  1. Senang membacanya bunda, tapi saya jadi sedih membacanya..tapi bunda harus kuat… tabah dan sabar. ….Abinya sudah di JannahNya Allah.

    Menulislah tentang kisah bersama abi, suatu saat akan bisa dibaca oleh anak cucu yang tidak sempat ketemu abi….

  2. Bu Herna…kenangan itu indah tatkala tak bisa diulang… Semoga Allah memampukan Panjenengan menjalani hidup lebih bersemangat lagi…putra-putri Panjenengan masih mendambakan ketegaran Panjenengan… Semangat-semangat…
    Barakallah…

  3. Benar Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar kemampuannya.
    Semangat Ibu, kuat dan sehat selalu…… Amin…

Leave a Reply

Your email address will not be published.