JKM, JHT, dan JPN

Lapak Asik onsite BPJS Ketenagakerjaan cabang Rungkut. Di meja dekat satpam itulah saya mengerjakan semuanya. (Dokumen pribadi)

Apa itu?

Hari ini saya akan berbagi pengalaman mengurus Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pensiun (JPN) di BPJS Ketenagakerjaan. Sebenarnya sebulan yang lalu saya sudah mengurus hal ini dengan Mbak Siti, HRD perusahaan Abi bekerja. Sayangnya, saat itu status almarhum Abi masih tercatat aktif. Sebenarnya  kantor Abi sudah menon-aktifkan status beliau per tanggal 10 Februari 2021. Kami ke sana tanggal 17 Februari 2021. Rupanya butuh waktu sebulan masa transisi sebelum peserta dinyatakan non aktif tersebut. Ada untungnya juga karena saya harus melengkapi berkas-berkas untuk mengurus beasiswa yang diberikan BPJS kepada dua anak. Saya butuh surat keterangan aktif sekolah/kuliah dan kartu pelajar/mahasiswa. Sulung saya sudah kuliah, adiknya kelas XII SMA.

Alhamdulilah semua berkas sudah siap, saya mengecek status Abi sudah non aktif. Ini ngeceknya di aplikasi BPJSTKU. Kalau Anda peserta BPJS dan belum mempunyai akun BPJSTKU, unduh saja aplikasinya di playstore, install, dan daftar baru. Aplikasi ini bermanfaat karena kita bisa tahu berapa saldo tabungan kita, simulasi perolehan JHT, antrian online, info program, dan sebagainya. Kalau kartu manual kita hilang kita tunjukkan saja kartu digital di aplikasi ini. Sangat membantu.

Saya buka akun Abi, login dan klik kartu digital. Di situ kita bisa lihat informasi kepesertaan. Mulai dari upah peserta, pembayaran iuran terakhir, tanggal pensiun, program yang diikuti, status serta informasi bank. Kalau status sudah tidak aktif berarti saya sudah bisa mengurus semuanya. Kantor Abi mendaftarkan karyawannya 4 program yaitu JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja), JKM, JHT, dan JPN. Karena Abi wafat karena sakit maka saya tidak mengurus JKK.

Hari Selasa,  9 Maret 2021 saya menuju kantor BPJS cabang Rungkut di Jalan Jemursari 26 Surabaya. Saya berangkat dari kantor sekitar jam 9-an. Sampai di sana ternyata sudah ramai. Saya disambut oleh petugas satpam yang ramah. Ada dua orang satpam. Satunya sedang membantu peserta lain. Satunya menemui saya. Ia menanyakan keperluan saya dan meminta saya mengunduh QR& Barcode Scanner. Saya bingung untuk apa ini. Selesai mengunduhnya saya diarahkan ke satpam satunya untuk meminjam selembar kertas berisi QR Code yang harus saya scan.

Segera saya scan. Ternyata saya masuk di Lapak Asik BPJS. Kependekan dari Layanan Tanpa Kontak Fisik. Sebenarnya saya sudah pernah browsing tentang layanan online ini tapi karena HRD kantor menyatakan harus diurus langsung maka saya tidak mendalami informasi di Lapak Asik ini.  Wah… ini nih…saya ketinggalan. Sudah nggak enak perasaan saya. Hehehe…Kebiasaan saya sebelum mengurus ini itu saya selalu mempelajari step-stepnya agar tidak gagap di lapangan. Harus literate. Karena saya terlalu percaya pada informasi kantor Abi: pokoknya dibawa semua berkas ke BPJS nanti akan dipanggil. Jadinya, saya haqqul yakin hanya menyerahkan segebok berkas. Antri dan dipanggil. Ternyata nggak semudah itu Ferguso… hahaha.

Saya harus menyalin semua data di form manual yang sudah saya isi di laman Lapak Asik BPJS. Salah entri saya harus mengulang dari awal. Semua dokumen asli harus difoto. Dan itu terjadi. Saya agak desperate hingga saya beranikan bertanya pada pak Satpam.

“Pak, ini nggak bisa dikerjakan di rumah ta Pak?” tanya saya. Saya lihat baterai saya tinggal 20% dan saya tidak siap dengan paket data yang cukup. Saya ini pejuang wifi. Di rumah, di kantor mengandalkan wifi. Pulsa data secukupnya saja.

“Nggak bisa, Bu. Kalau JHT masih bisa tapi JKM lebih baik di sini, “ jawabnya.

“Baik, “ jawab saya.

“Begini saja, Bu. Ibu datang besok pagi-pagi sekali. Jam 7.30 nanti saya bantu, “ katanya kemudian.

“Baik, “ jawab saya. Saya mengiyakan saja. Toh saya bisa mempelajari prosedurnya nanti malam supaya besok lancar jaya. Akan saya isi mobile data saya, terutama baterai HP saya.

Saya tidak segera pulang. Saya duduk dan segera saya konfirmasi ke HRD tentang apa yang terjadi pagi ini. Bisakah saya lakukan online saja di rumah. Semua berkas yang diminta fotonya sudah saya siapkan filenya. Ia mencoba menelpon orang yang disebutnya sebagai AR perusahaan. Oya, saya tidak tahu AR itu kepanjangannya apa. Kemudian ia menjelaskan bahwa ini namanya layanan onsite. Khusus JKM dilakukan onsite saja. Kalau saya besok berhasil, maka bisa dilakukan wawancara langsung. Dalam hati saya bertanya, wawancara?

Sementara dari balik kursi di belakang saya mendengar Pak Satpam memberitahu peserta lain dengan urusan yang sama dengan saya. Sebelumnya ia mengatakan hal yang sama pada ibu-ibu di samping saya.

“Bapak besok ke sini pagi-pagi ya. Pukul 7.30, nanti saya bantu,” kata Pak Satpam.

Wah… semua orang disuruh datang 7.30, batin saya. Kalau gitu  saya datang jam 7 saja, tekad saya.

***

Keesokan harinya saya benar-benar meluncur ke BPJS di kawasan Jemursari ini pagi-pagi sekali. Saya sudah izin kantor langsung ke BPJS. Sekitar pukul 7.15 saya sudah sampai. Seperti hari sebelumnya, saya diarahkan untuk scan QR Code yang ada.

“Lho Pak, katanya kemarin saya dibantu?” tanya saya penuh selidik.

“Ya bu, Ibu pakai HP-nya ibu, ikuti instruksi yang ada. Kalau ada kesulitan nanti saya bantu. Silakan menuju ke meja itu Bu, “ katanya sambil menunjuk meja yang kosong di sebelah kirinya.

O.. ini to dibantu itu maksudnya? batin saya. hehehe…

Alhamdulillah hari masih pagi. Masih sepi. Pulsa data saya banyak, baterai penuh,  internet lancar. Saya mendapat tempat duduk yang nyaman, ada meja dan tetap jaga jarak dengan peserta lain. Saya baca basmallah. Dalam hati saya berdoa:

Allahumma laa sahlan illa maa jaaltahu sahlan,  wa anta taj’alu husna idza syiktah sahlan….

(Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya)

Saya mengerjakan dengan hati lapang.  Mengisikan data Abi, data saya dan anak-anak selaku ahli waris, memotret dokumen-dokumen yang diminta, dan memotret diri saya sendiri selaku pemohon. Lancar jaya. Form JKM selesai. Saya lanjutkan mengisi form JHT. Lancar jaya. Tinggal JPN. Semua berjalan lancar sampai ketika harus memasukkan data dua anak saya. Ngelagmaan!

Saya coba tunggu beberapa saat. Saya tidak berani menekan tombol yang lain. Takutnya kembali ke awal lagi. Setelah cukup lama saya menunggu tidak kunjung berhasil, saya meminta bantuan Pak Satpam.

“Pak, ini ngelag seperti ini. Solusinya apa ya, Pak?”

“Pake wifi saja Bu, “ jawabnya sambil meminta HP saya, menyetting wifi dan memasukkan passwordnya.

Segera saya ucapkan terima kasih dan mulai dari awal kembali. Untung dua form yang tadi sudah berhasil tersimpan. Mula-mula lancar hingga di bagian pengisian data anak mulai ngelag kembali. Alhamdulilah bisa. Ketika hendak upload foto KTP mulai ngelag lagi. Berputar-putar tidak mau menyimpan. Saya tunggu beberapa saat. Malu harus minta tolong terus. Hehehe… karena terlalu lama menunggu nggak kuat juga.

“Pak, ngelag lagi nih. Solusinya gimana Pak?” tanya saya.

“ Begini saja Bu. Ibu saya pinjami HP ya. Nanti kalau tidak bisa biar saya fotokan saja, “katanya. Ia masuk ke dalam kantor dan membawa Ipad. Menyettingnya beberapa saat dan memberikan ke saya.

Saya melakukannya sekali lagi. Dari awal lagi. Semuanya lancar sampai saat upload foto KTP. Terjadi lagi. Akhirnya saya menuju Pak Satpam.

“Baik bu. Sekarang ibu siapkan berkas-berkas aslinya. Saya bawa ke dalam saja, “katanya sambil menyerahkan map plastik kosong.

Alhamdulilah.

***

Pukul 11.15 ada petugas keluar dari kantor dan meminta foto saya. Pukul 11. 20  Pak Satpam meminta semua berkas foto kopian. Pukul 11.30 saya mendapat tiket antrian. 11.50 saya diwawancarai.

Saya berhadapan dengan layar monitor yang menampakkan wajah petugas yang mewawancarai saya. Kami berkomunikasi menggunakan headset. Beliau mengonfirmasi beberapa data yang ada di form saya. Menerangkan bahwa klaim JKM dan JHT sudah diproses. Tinggal menunggu pencairan dananya. Katanya 5 hari kerja tidak termasuk hari Sabtu dan hari libur. Peserta JKM mendapat santunan sebesar 42 juta rupiah sementara JHT tergantung tabungan masing-masing peserta.

Untuk JPN diberikan pada janda/duda yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan sampai dia meninggal/menikah lagi. Pencairannya triwulan. Jika janda/duda ini meninggal atau menikah lagi maka akan turun ke anak sampai dia berusia 23 tahun atau sudah bekerja. Jika si kakak sudah berusia 23 tahun atau sudah bekerja, maka manfaat tersebut turun ke adiknya  sampai usia tersebut. Ahli waris harus konfirmasi ke BPJS setiap tiga bulan untuk JPN ini. Besarnya tergantung prosentase upah yang diterima masing-masing pekerja.

Sementara beasiswa untuk dua anak tetap diterima berkasnya namun masih belum bisa diproses karena ternyata SK belum ditanda-tangani.  Pada bagian ini saya terkejut karena meski sudah ramai di media ternyata belum ditandatangani. Jadi, mereka menunggu SK turun. Semoga segera ditandatangani SK-nya agar membantu anak-anak yang membutuhkan supaya tidak putus sekolah. Jumlah beasiswa yang diberikan lumayan. Untuk tingkat Perguruan tinggi mencapai 12 juta/tahun sampai 5 tahun, SMA 3 juta/tahun sampai 3 tahun, SMP 2 juta/tahun sampai 3 tahun, TK-SD 1,5 juta/tahun sampai 8 tahun.

Saya mendengarkannya dengan hati-hati. Akhirnya pukul 12.16 proses selesai. Alhamdulilahirobbil alamiin. Terima kasih ya Allah atas segala kemudahan yang Engkau berikan pada kami.

Sebelum pulang, ada petugas yang menyerahkan kembali berkas-berkas asli saya. Ia meminta izin apakah saya berkenan memberikan testimoni terkait mengurus hal ini. Tentu saja saya jawab dengan senang hati. Segera ia nyalakan kamera HP-nya dan saya mulai bertestimoni.

Saya menyampaikan terima kasih banyak kepada BPJS Ketenagakerjaan khususnya Lapak Asik ini karena menurut saya mudah mengurus klaim-klaim, tidak lama, dan dilayani dengan sangat baik. Mulai dari petugas Satpam yang mengarahkan saya, memberi akses wifi, meminjami HP saat terjadi error. Akhirnya  memberikan solusi langsung ke dalam. Pewawancara  yang sopan (sayang sekali saya lupa menanyakan namanya), memberikan penjelasan yang sangat gamblang, memberikan kesempatan luas bertanya dan memastikan saya mengurus semuanya dengan baik.

Alhamdulillah…tsumma alhamdulillah.

Abi….. satu amanah sudah berhasil kutunaikan Mas. Semoga rahmat dan ampunan Allah mengalir untukmu selalu sayang.

 

Sidoarjo, 12 Maret 2021.

8 Replies to “JKM, JHT, dan JPN”

  1. Alhamdulillah akhirnya sudah beres ngih.. baca tulisan bu herna ikut bayangkan situasinya 🙂 oya, apakah aplikasi itu sama seperti mobile JKN?

Leave a Reply to hernawati Cancel reply

Your email address will not be published.