
Saya sering mendengar kalimat yang saya jadikan judul tulisan ini. Menulis itu menyembuhkan. Saya juga pernah bertemu seseorang yang mengamalkan terapi ini. Seorang guru penulis yang tetap eksis di usia senjanya. Saya bertemu dengannya di sebuah pelatihan menulis. Padahal, beliau baru saja pasang ring di jantungnya. Menurutnya, menulis itu menyembuhkan.
Sahabat pembaca pasti pernah menonton film Habibie dan Ainun. Film produksi tahun 2012 itu dibintangi oleh Reza Rahardian sebagai Habibie dan Bunga Citra Lestari sebagai Ainun. Film itu kabarnya sangat sukses meraup penonton. Tidak kurang dari 4,7 juta penonton menyaksikan romansa mantan Presiden RI ke-3 tersebut. Film Habibie dan Ainun tersebut diangkat dari memoar yang ditulis oleh almarhum Habibie dengan judul sama. Beliau menulis buku itu atas saran seorang dokter untuk menyembuhkan diri dari depresi kehilangan istri yang sangat dicintainya.
Posisi saya sekarang barangkali persis dengan posisi almarhum Habibie saat itu. Saya baru saja kehilangan suami yang sangat saya cintai. Karena terlalu mencintainya, saya bilang pada seorang sahabat bahwa ini sebuah kesalahan. Kata Bryan May, gitaris legendaris Queen yang juga doktor Astronomi itu Too Much Love Will Kill You. Bedanya, Bryan May dalam lagu itu terlalu mencintai perempuan lain sementara saya terlalu mencintai pasangan sah saya.
Sebagai seorang beriman tentu saja saya harus menerima ketetapan Allah ini. Mau tidak mau. Cepat atau lambat. Saya harus ridlo. Harus ikhlas agar jalan almarhum suami tidak tersendat di alamnya. Ini masalah tauhid. Ditambah lagi ada empat anak yang menjadi amanah saya selanjutnya. Yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Namun sangat manusiawi rasanya jika saya membutuhkan ruang katarsis jiwa. Sarana melepaskan emosi untuk kesehatan mental saya. Akibatnya, beberapa hari ini saya rajin mencari sumber-sumber rujukan benarkah menulis itu menyembuhkan. Ceritanya, saya ingin melakukan terapi terhadap diri saya sendiri.
Beberapa artikel psikologi saya baca hingga saya terdampar di situs American Psychology Association (APA) yang banyak mengupas tentang terapi ini. Adalah James W. Pennebaker seorang psikolog yang banyak melakukan riset tentang manfaat menulis bagi kesehatan. Selama beberapa dekade, ia mempelajari mahasiswa dan sejumlah kelompok sosial lainnya. Ia menemukan bahwa menulis secara teratur di jurnal tentang masalah yang sangat mengganggu—baik peristiwa itu sendiri maupun emosi yang terkait dengan peristiwa tersebut—akan menuai kesehatan yang lebih baik. Silakan baca di sini edisi lengkapnya.
Diceritakan di artikel ini, mahasiswa yang menulis lebih jarang mengunjungi pusat kesehatan serta mengalami peningkatan yang signifikan dalam fungsi kekebalan. Siswa yang menulis jurnal juga menunjukkan suasana hati yang lebih baik dan sikap positif yang meningkat. Hasil riset tahunan tersebut menjadi embrio lahirnya buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions (1997).
Di dalam buku ini pun disebutkan riset Pennebaker pada para pekerja yang terkena PHK. Pekerja yang menuliskan perasaan dan harapan-harapan secara intens ternyata mendapatkan kembali pekerjaannya jauh lebih cepat dibanding yang tidak menulis. Menulis membantu mereka melampiaskan amarah, sakit hati, dan rasa sakit karena kehilangan pekerjaan. Ini memungkinkan mereka melepaskan pengalaman menyakitkan, yang pada gilirannya membantu mereka menjadi efektif dalam mencari pekerjaan.
Beberapa testimoni yang saya baca di goodread.com terkait buku ini berasal dari orang-orang dengan beragam kondisi. Ada yang survivor kanker. Ia menulis selama 2006-2007 mengisi masa-masa kritisnya bersama kanker. Ada yang mengalami trauma masa kecil, ada yang trauma kekerasan seksual, KDRT, dan sebagainya. Semuanya mengerucut pada satu titik. Menulis itu menyembuhkan.
Semuanya makin membulatkan tekad saya. Saya akan menulis untuk “kesembuhan” saya. Apalagi sejak awal saya menyukai dunia menulis. Kecintaan menulis semakin terpelihara karena didikan almarhum suami. Almarhum adalah mentor dan motivator andal dalam menulis. Kami sering berdiskusi tentang suatu hal yang akhirnya jadi tulisan. Saya pun jatuh cinta pada almarhum salah satunya karena tulisan-tulisannya. Semasa mahasiswa, ia sering menulis di Kolom Mahasiswa Koran Jawa Pos.
Bagi sahabat-sahabat yang menghadapi permasalahan serupa, saya mengajak cobalah menulis. Saya lihat banyak korban berjatuhan karena Covid-19 ini. Istri kehilangan suami. Suami kehilangan istri. Anak kehilangan orang tua. Begitu sebaliknya. Intinya, kehilangan orang yang sangat dicintai. Mari sembuhkan diri kita dengan menulis.
Semoga setiap huruf yang saya ketikkan menjadi amal jariah bagi almarhum suami yang tak putus dimakan usia. Duhai Allah, tolong kirimkan salam saya padanya. Salam rindu.
Sidoarjo, 23 Januari 2021

Semoga mendapatkan selalu rahmah dan maghfirah di sana…
aamiin aamiin Ya Rabbal alamiin. Terima kasih doanya pak Mudhofa
Allah pasti beri kekuatan pada Bu Herna dan anak2, insyaAllah ❤️
insyaAllah kelak berkumpul lagi bersama2 dg suasana yg lebih indah ☺️
Selamat menebar semangat menulis bundaa ?
Ya Allah….. aamiin aamiin doanya. Terima kasih banyak sudah mampir
Sama2 Bu Herna.. selamat memulihkan jiwa raga ☺️
kami tunggu semangatnya lagi Utk mengcoach kami menulis ??
Semoga dapat segera move on Bu Herna melanjutkan masa depan anak-anak tercinta.
Ya say… never easy but i must do my best. many thanks
Semangat ya mbak hernawati….
siaap. terima kasih banyak supportnya