
Ingin dikenang seperti apa Anda jika kelak tiada?
Saya mengenang almarhum suami dalam secangkir kopi Subuh. Setiap Subuh seperti ini biasanya beliau pulang dari masjid bersama anak laki-lakinya. Sementara kami – yang perempuan salat Subuh di rumah. Begitu sampai di rumah, saya akan menyambutnya dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas. Menguarkan tajam aroma Arabika. Biasanya kopi itu ditemani dengan pisang goreng. Abi tidak pernah bosan dengan pisang goreng. Syaratnya satu, pisang kepok yang tidak terlalu matang.
Ini berbeda selera dengan saya. Saya lebih menyukai pisang kepok itu dikukus. Saat diturunkan dari panci pengukus, pisang yang masih panas itu saya kupas. Saya tusuk dengan garpu dan dinikmati panas-panas. Maknyuss… . Itu menurut saya. Menurut Abi, saya kurang alami. Pakai tangan, Mi. Biar bisa merasakan derajat panas pisang itu. Heeemm…
Kalau selera anak-anak cenderung sama dengan ayahnya. Bedanya, mereka lebih metro. Bermain dengan topping. Kalau di kulkas ada susu kental manis, pisang goreng itu segera dihujani dengan susu tersebut. Dinikmati lengket-lengket. Kalau ada coklat keju jadilah piskatju, pisang coklat keju. Kalau ada gula halus, maka pisgor itu segera berselimut putih gula tersebut. Kalau sedang nggak punya apa-apa, baru mereka menikmati pisang goreng rasa aslinya. Kopi dan pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan menjadi kudapan Subuh paling favorit di tempat kami.
Masing-masing kami menderaskan Al-Quran untuk memulai hari. Di hari-hari efektif, saya membaca lebih sedikit di pagi hari karena harus melanjutkan kesibukan di dapur. Namun, saya menggantinya bada salat Magrib menuju Isya. Sebaliknya, saat akhir pekan saya membaca lebih banyak Al-Quran di pagi hari. Weekend adalah slow living bagi kami. Semuanya berjalan lambat.
Surat favorit Abi adalah Al Kahfi. Saya sering mendengarkannya menderaskan dalam suara yang keras. Memberinya jeda sekian menit di setiap ayatnya. Dulu saya pernah bertanya, kenapa kok lama sih Bi bacanya? Ternyata, beliau mengiringi bacaan Al-Quran tersebut dengan terjemahannya. Katanya supaya lebih mantap karena tahu arti ayat yang dibacanya. Jeda itu bisa lebih lama lagi kalau dilanjut dengan asbabunnuzul-nya. Sebab-sebab turunnya ayat. Selanjutnya, saya tidak pernah bertanya lagi jika ia membacanya dengan jeda beberapa saat. Saking gemarnya dengan Al Kahfi, saat saya memeriksa HP-nya ternyata ada aplikasi tersendiri yang mengupas tuntas surat ini.
Selain membaca dengan keras, tak jarang Abi membacanya secara pelan. Nyaris tak terdengar. Umik-umik… bahasa Jawanya. Komat-kamit. Seperti merapal sebuah doa. Saya baru paham beberapa lama kemudian. Ternyata Abi menghafalnya. Saya menemukannya ketika mengimami kami salat, Abi membaca sepuluh ayat pertama Al Kahfi. Di kesempatan lain ia membaca sepuluh ayat pertama Al Baqarah, bagian akhir Al Baqarah, Al Mulk, Al Waqiah, Ar Rohman, Yasin, dan beberapa surat pilihan lainnya. Saya tertegun.
Wah… keren Abi, saya menggodanya begitu selesai salat.
Ya isoke iki, Mik. Bisanya cuma segitu. Jawabnya seringan kapas.
Saya jadi iri. Ternyata di akhir hayatnya Abi sudah punya hafalan Al-Quran. Sementara saya belum memulainya. Sungguh benarlah yang dikatakan dalam sebuah hadis cukuplah kematian sebagai nasehat.
Abi bukanlah seorang ustad. Bukanlah seorang yang religius. Bacaan Al-Qur’an-nya tidak selancar saya membacanya. Apalagi dibandingkan anak-anak kami yang lulusan sekolah Islam. Jauh lagi dibanding anaknya yang mondok. Tapi urusan belajar Al-Quran, Abi nomor wahid. Keistiqomahannya mempelajari Al-Quran saya acungi jempol. Selalu ada yang baru. (kayak tagline Jawa Pos …hehehe)
Kembali ke kopi Subuh. Abi akan menyesap kopinya segera setelah menyelesaikan bacaannya. Kemudian menikmati pisang gorengnya. Pun ia seorang yang pandai berterima kasih. Bahkan untuk hal-hal kecil. Suwun Mik. Begitu sering diucapkannya.
Kalau saya sedang capek, kadang saya letakkan kepala di salah satu pahanya sembari menikmatinya menderaskan ayat-ayat Al-Quran. Begitu sebaliknya. Kadang saya menderas sementara Abi leyeh-leyeh di samping saya. Tak jarang tangan ini membelai rambutnya sembari terus melanjutkan bacaan. Tentu saja momen manis seperti ini nggak bisa dilakukan di hari kerja. Bisa buyar semuanya. Hahaha…
Secangkir kopi Subuh kini tinggal kenangan. Nikmatnya kopi tidak akan menemani Abi melewati masa-masa di alamnya. Namun, ayat-ayat Al-Quran yang Abi deraskan baik secara keras maupun perlahan akan menjadi teman setianya di sana. Insya Allah. Ia akan menjadi syafa’at baginya.
Duhai Allah, terimalah bacaan Al-Quran kami dan sempurnakanlah kekurangannya.
Sidoarjo, 24 Januari 2021

Masya Allah……. Cara yang sederhana tapi sangaaaaat indah mengenang kekaasih hati.
Be strong umik sayang❤️❤️❤️❤️
harus ya though it’s hard
Ya Allah… Ternyata selama ini saya blm mengenal mas fifka yg sesungguhnya, seingatku, aku hanya bisa manas-manas i mas fif utk mandiri, segera mempunyai usaha sendiri, krn kita sama2 mempunyai 4 anak, bedanya ternyata disini….nangis saya….
Abi sering cerita tentang jenengan. Jenengan adalah salah satu inspiratornya. Terima kasih Pak. Usahanya sekarang sedang kami lanjutkan. Mohon doanya selalu.