Menulis Buku dengan Kedipan Mata

source: en.wikipedia/org

Ya. Dengan Kedipan Mata.

Ceritanya begini. Beberapa hari yang lalu saya ingin sekali menonton film. Capek dengan rutinitas. Sepulang kerja setelah selesai urusan keluarga, saya mulai browsing film-film bertema penulis. Beberapa di antaranya pernah saya tonton. Akhirnya pilihan saya jatuh pada film lawas berjudul The Diving Bell and the Butterfly. Gila! Film ini memenangkan banyak penghargaan dunia. Semakin membuncahkan rasa penasaran.

Seperti biasa saya coba menebak kira-kira tentang apa ya film ini. Apa hubungan antara menyelam dan kupu-kupu? Saya lanjutkan mencari review-nya dan…..

Oh My God. This film is REMARKABLE!

LUAR BIASA!

Film produksi 2007 ini diangkat dari buku memoar berjudul sama yang diterbitkan 1997. Film bertutur tentang kisah nyata seorang editor Majalah fashion Perancis Elle yang  bernama Jean Dominique Bauby. Jean Do, nama panggilannya. Setting di Perancis.

Suatu hari, ia terserang stroke fatal. Locked-in syndrome, bahasa medisnya. Sindrom Terkunci. Ia hidup dan sadar namun tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Gampangnya, ia lumpuh mulai dari kepala sampai ujung kaki. Bahkan untuk bernapas ia tergantung pada bantuan alat trakeostomi, seperti selang yang dimasukkan ke leher pasien yang telah dilubangi sebelumnya. Hanya menyisakan mata sebelah kiri. Ia bisa melihat dan mendengar sekelilingnya namun ia tidak bisa meresponnya.

Begitu tahu kondisinya tentu saja ia marah, tidak mau menerima dan ingin mati saja rasanya. Di rumah sakit, ia menjalani berbagai macam terapi. Salah satunya terapi wicara. Henriette, seorang terapis mengusulkan sebuah cara berkomunikasi. Karena mata kiri Jean Do  ini normal maka inilah satu-satunya cara berkomunikasi. Bagaimana caranya?

Dengan kedipan.

Henriette akan menanyakan pertanyaan berbasis Yes No question. Jika “ya” maka Jean Do mengedip sekali. Jika “tidak”, ia mengedip dua kali.Ternyata berhasil.

Kemudian, terapis ini meningkatkan sistem komunikasinya. Ia akan mengucapkan huruf demi huruf untuk menyusun sebuah kata, sebuah kalimat. Jean Do akan mengedip jika terapis membacakan huruf yang ada dalam pikirannya. Susunan huruf yang dibacakan bukan A, B, C, D namun huruf-huruf yang sering dipakai dalam kalimat di bahasa Perancis. Dimulai dari E, kemudian S, A, R, I, N, T, U, dan seterusnya.

source: youtube

Percobaan ini berhasil. Jean Do bisa berkomunikasi. Ini menumbuhkan kepercayaan dirinya. Menariknya, Jean Do ini sangat sehat secara psikis. Ia berkomunikasi dengan dirinya, ia bisa mengingat dengan jelas memori dalam hidupnya. Tentang Celine—ibu anak-anak mereka yang tidak pernah dinikahinya. Tentang ayah sepuhnya yang sangat dicintainya. Tentang kekasih-kekasihnya. (nih pria flamboyan banget heheh…)  Ia pun mampu mengembangkan imajinasinya. Memikirkan betapa cantiknya Henriette, berselancar, berkencan, berguling-guling di pantai, dan banyak hal lain.

Dasar penulis ya, karena menyadari memori dan imajinasinya masih ada, Jean Do memutuskan akan menulis buku. Memoar tentang dirinya. Ia akan memberi kenangan bagi orang-orang  tersayang khususnya. Other than my eyes, two things aren’t paralyzed. My imagination and my meories.  Baginya,  dua hal itu—memori dan imajinasi— sudah cukup untuk menulis. Meskipun dirinya terjebak dalam baju selamnya namun imajinasinya melayang seringan kupu-kupu. Sepertinya itu makna judul film ini.

Henriette segera menghubungi agen Jean Do untuk mengutarakan niatnya. Ia membutuhkan seorang transkriptor untuk mewujudkan impiannya menulis buku. Orang ini harus super sabar, super telaten, dan bekerja dengan passion. Bagaimana tidak? Ia harus mengeja huruf demi huruf, menunggu respon kedipan, menuliskan, membentuk sebuah kata, menjalin sebuah kalimat, merajut sebuah paragraf. Ahhhhh… membayangkannya saja saya nggak mampu.

Claude nama perempuan cantik yang menerjemahkan kedipan mata Jean Do itu benar-benar bekerja dengan hati. Singkat cerita buku itu pun selesai. Buku yang ditulis dengan kedipan mata itu dipublikasikan 1997. Dalam seminggu saja buku itu laku 150 ribu eksemplar. Dua hari setelah peluncuran bukunya, Jean Do wafat.

source: Amazon.com

Dari segi sinematografis, film ini menyuguhkan banyak keindahan. Ia tidak hanya menggambarkan seorang yang teronggok sakit tapi juga apa yang dirasakan, apa yang dilihat di sekelilingnya. Heroisme, romantisme sekaligus kepiluan yang dalam. Siap-siap saja kalau tiba-tiba mendanau mata dan menggulirkan air mata tanpa diminta.

Film ini layak ditonton.  Setidaknya pengingat bagi saya yang terkadang dihinggapi rasa malas menulis. Malu sama Jean Do.

 

 

Surabaya, 15 September 2020

8 Replies to “Menulis Buku dengan Kedipan Mata”

Leave a Reply

Your email address will not be published.