Turuti Kata Emak

Perayaan Idul Fitri 1444 H tahun ini tidak bersamaan. Kami termasuk yang merayakannya di hari Jumat, 21 April 2023. Saya mengajak anak-anak mudik H-1 selepas sholat Asar. Tujuan kami adalah desa kelahiran alm. ayah anak-anak, Brangsi-Laren, Lamongan. Tidak jauh dari Surabaya. Perjalanan sekitar 2 jam dari rumah kami di Sidoarjo jika lancar. Hari itu kami dijemput Mas Dendi, keponakan dari pihak suami. Sekitar pukul dua siang, Mas Dendi sampai di rumah kami. Saya biarkan dia beristirahat sejenak sembari menunggu azan Asar. Menjelang pukul 15.30 kami berangkat.

Jalan tol sangat lengang. Hanya terlihat dua tiga mobil di sepanjang perjalanan. Karena terlalu lengang, saya merasakan mobil-mobil yang ada melaju sangat kencang. Baru ketika keluar tol, saya mulai mendapati jalanan terasa padat. Banyak pemudik bersepeda motor lalu lalang. Mendekati Duduk Sampeyan Gresik kepadatan kian terasa. Meskipun demikian, arus lalu lintas relatif lancar.

Maghrib masih kurang sepuluh menit. Kami mampir di gerai Indomaret untuk membeli minuman dan snack secukupnya untuk membatalkan puasa. Saya sengaja tidak mengajak anak-anak makan berat di luar karena di rumah sudah ditunggu buka puasa bersama. Kabarnya, orang rumah sudah menyiapkan 9 menu masakan. Segera terbayang di benak saya, lontong kupat, kari daging, opor ayam, asem-asem kepala ikan manyong, cumi kuah hitam, tomyang, capjay, bakso…… Ah.. jadi lapar. Hahaha….

Safir-anak kedua saya tertarik pada pohong keju di seberang Indomaret. Sayangnya, kami harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan dua porsi pohong keju seharga @10.000 rupiah. Sampai azan Maghrib berkumandang, pohong keju itu pun belum selesai. Segera kami nikmati minuman dan snack yang ada. Setelah cukup lama, akhirnya Safir kembali membawa dua kresek pohong keju. Kami menikmatinya panas-panas. Melepuh di mulut. Rasanya tidak seperti pohong keju yang pernah kami beli di Surabaya. Rasa kejunya tidak terasa, justru rasa asin dan bawang putih yang mendominasi. Tapi, itu rezeki kami untuk buka puasa. Alhamdulillah. Tidak lama kemudian sampailah kami di tempat tujuan.

***

Keesokan paginya, seperti biasa kami melakukan sholat Idul Fitri di lapangan bola di depan kompleks sekolah Muhammadyah di desa tersebut. Gema takbir sudah berkumandang sejak selesai azan Maghrib. Berhenti hanya ketika sholat. Pagi seperti ini menjadi hari yang sibuk di keluarga besar kami. Bahkan kesibukan sudah dimulai sejak sebelum subuh. Menghangatkan makanan karena harus sarapan dulu sebelum sholat Idul Fitri. Dua kamar mandi berukuran cukup besar juga tak henti-henti menampung empat keluarga yang antri mandi, dan bersiap-siap berangkat sholat Id.

Karena sholat dilakukan di lapangan bola dengan rumput alami tentu saja kami harus membawa alas sholat. Sajadah dan terpal. Wajib hukumnya kalau tidak mau basah. Emak—ibu mertua saya sudah menyediakan alas sholat tersebut. Kami tinggal membawanya. Saya melihat ada sekitar empat atau lima sajadah yang tertinggal. Segera saya ambil satu yang tipis.

Gawanen sing tebel, Her,” kata emak.
Mboten Mak, yang tipis mawon,” jawab saya.
Wes talah, gawa sing tebel, “kata emak. Kali ini dengan nada memerintah. Saya tidak berani membantah. Segera saya bawa sajadah yang paling tebal di antara sajadah yang ada.

Singkat cerita, sampailah kami di lapangan tempat sholat Id dilaksanakan. Tampak orang-orang menggelar terpal, tikar, dan sajadah untuk menutupi rumput yang basah. Kami segera mencari emak namun tidak ketemu. Emak berangkat lebih awal karena tidak kuat berjalan jauh sehingga harus diantar dengan motor. Biasanya emak membawa terpal juga. Sekali lagi saya layangkan pandang pada lautan muslimah bermukena putih namun tidak ketemu jua. Perasaaan saya mulai tidak enak. Jangan-jangan terpalnya tidak cukup menampung kami yang berdelapan saat itu.

Ternyata benar. Terpal kami cukup minimalis panjangnya. Begitu melihat ibu-ibu sedang menggelar tikar, dengan cekatan adik ipar saya menanyakan apakah ada tempat untuk ketiga remaja putrinya. Alhamdulillah ada. Tiga orang aman. Nunut ibu tadi. Setelah ditata sedemikian rupa, akhirnya terpal kami bisa digunakan empat orang. Dua adik ipar saya dan dua putri saya.

Terus saya gimana?
Ternyata ini rahasianya.
Langsung saja terngiang-ngiang kata emak tadi pagi: Wes talah, gawa sing tebel.
Untunglah, saya menuruti kata-kata emak. Segera saya gelar sajadah tebal di atas rumput hijau yang basah.

Lamongan, 21 April 2023.

Leave a Reply

Your email address will not be published.