
Sebaik-baik teman duduk adalah buku (maqolah)
Almarhum Abi adalah pecinta buku. Mahasiswa saat itu banyak yang tergabung dalam kelompok-kelompok diskusi. Pun dengan Abi. Anggota kelompok ini tidak hanya mahasiswa sekampus tetapi bisa juga lain kampus. Bagi yang tertarik jurnalistik, mereka akan mengikatnya dengan cara menuliskannya setelah berdiskusi tadi. Ada yang membuat buletin, majalah dan koran kampus. Ada juga yang mampu menembus media masa lokal maupun nasional. Gagah rasanya. Bisa mengeskspresikan pendapat sekaligus menggaet pendapatan. Hehehe… Lumayan untuk kantong mahasiswa. Kolom mahasiswa Jawa Pos dulu memberi honor 50 ribu rupiah. Mungkin setara dengan 500 ribu sekarang.
Saya juga memiliki kelompok diskusi sendiri meski tidak semoncer kelompok diskusi Abi. Saya katakan demikian karena setelah menikah Abi banyak bercerita apa yang mereka lakukan saat diskusi. Forum ilmunya jalan. Tidak jarang mereka berargumen cukup panas tapi selesai di situ. Setelahnya mereka akan ngobar—ngopi bareng. Kelompok diskusi tersebut melahirkan mahasiswa penulis yang andal. Di kemudian hari mereka menjelma jadi wartawan.
Nah, untuk berdiskusi tadi dibutuhkan prior knowledge—pengetahuan awal agar pendapat yang dilontarkan lebih bernas, tidak ngambang. Supaya yang disampaikan dalam diskusi itu berdaging—meminjam bahasa anak muda sekarang, harus membaca buku. Itu yang menyebabkan Abi sangat cinta buku sampai akhir hayatnya. Setelah saya ingat-ingat, ternyata dulu Abi memikat saya salah satunya dengan buku.
Saat melamar saya, ia memberikan setumpuk buku-buku tebal di samping hantaran lamaran yang normal. Nama pengarangnya pun saya tak kenal. The Liang Gie, Sachiko Murata, Erich Fromm, Charles J. Keating, Annemarie Schimmel untuk menyebut beberapa. Sementara saya kenalnya Ernest Hemmingway, Jane Austen, Emily Bronte, E.M. Forster, dan lainnya yang memang kami pelajari sebagai mahasiswa bahasa Inggris. Genre kami memang beda. Saya suka romantis melankolis sementara buku-buku Abi bertipe filsafat pemikiran, politik, sosial budaya dan sejenisnya.
Istriku harus pintar, tulisnya di salah satu halaman depan setumpuk buku yang saya terima.
Klepek-klepek daah…
***
Kecintaan Abi pada buku terus berlanjut. Bahkan sepertinya ia balas dendam. Ia senang mengoleksi buku-buku yang bermutu. Sesuatu yang tidak bisa dilakukannya saat ia belum mandiri secara finansial. Setelah menikah saya terpapar virusnya. Setiap bulan Abi membawa saya ke Gramedia, membelikan buku. Itulah momen yang saya rindukan. Di sepanjang perjalanan kami mendiskusikan buku tersebut. Ketika mampir di warung es campur misalnya, kami membahas buku itu. Sebelum tidur, kami membedah buku itu.
Abi tahu saya suka novel. Ia tidak pernah melarang saya mengoleksi novel. Suatu hari ia menghadiahi saya sebuah novel yang tebalnya nggak main-main. 1247 halaman. Beratnya 1,5 kg. Buku itu berjudul Musashi karya Eiji Yoshikawa.
“Sampeyan harus baca ini, Dek,” katanya.
Saya kaget. Selain ketebalannya, saat saya balik harganya bikin syok. 125 ribu bro! Itu di bulan Mei tahun 2002. Saya coba cek di market place saat ini dibandrol 748 ribu.
“Mahal, Mas,” jawab saya khawatir dengan kondisi keuangan. Biasa, perempuan kan banyak yang dipikir.
“Ojok kuatir. Gak motong biaya hidup. Aku nabung selama tiga bulan untuk beli novel itu. Asline wes tak lirik sejak Februari kemarin,” jawabnya dengan pandangan meyakinkan khas Abi.
Masya Allah…
Kalau tidak di tempat umum mungkin sudah saya hujani dengan ciuman. Hahaha…
***
Ternyata Abi benar. Musashi benar-benar novel yang luar biasa. Saya melahapnya dalam waktu semingguan. Novel ini ditulis pada tahun 1953 oleh Eiji Yoshikawa, seorang sastrawan nomor wahid di Jepang. Menceritakan tentang perjalanan seorang samurai tahun 1600-an dalam menemukan jati dirinya. Mulai dari seorang pelarian perang hingga menjadi samurai sejati. Ada yang menyebutnya diangkat dari kisah nyata Miyamoto Musashi, seorang ahli pedang, filsuf, penulis yang hidup di zaman Edo. Ia seorang ahli pedang legendaris karena memainkan dua pedang dan selalu menang setiap berhadapan dengan lawan.
Sosok Musashi sendiri seorang pembelajar sejati, ia mempunyai disiplin diri yang tinggi, selalu melakukan self-improvement sampai akhirnya menjadi samurai sejati. Dengan bahasa pengembangan diri sekarang, ia sudah menggambar roadmap hidupnya, menitinya setapak demi setapak, fokus pada tujuan utama, self-evaluation dilakukan secara terus menerus sepanjang hidupnya hingga akhirnya ia mendapat pencerahan, ketenangan jiwa, dan kebijaksanaan.
Jangan lupa, novel ini juga bercerita tentang kesetiaan seorang perempuan. Otsu namanya. Perempuan kecil mungil, lemah lembut dan bermata teduh itu menunggu di jembatan Hanada setiap hari selama tiga tahun. Namun, sang kekasih yang diharapkan—Musashi—tak pernah muncul. Ia lebih memilih jalan hidupnya—jalan pedang.
Yoshikawa menggambarkan Musashi dengan sangat baik seolah-olah pembaca dibawa ke alam Jepang klasik saat itu. Menyaksikan keindahan alamnya, kesegaran udaranya, sosial kemasyarakatan, pengembaraan, dan tak lupa duel demi duel. Uniknya, Yoshikawa membiarkan pembacanya berimajinasi bagaimana kondisi real pertempuran saat itu. Yang paling menarik bagi saya adalah duel terakhirnya dengan Sasaki Kojiru—ahli pedang yang tak terkalahkan saat itu. Musashi hampir kalah karena ikat kepalanya terambil pedang Kojiro dan tergeletak ke tanah. Musashi jadi menggigil.
Apa yang menjadikan Musashi menang? Kojiro meletakkan keyakinannya pada pedang kekuatan dan keterampilan. Musashi mempercayakannya pada pedang semangat. Itulah satu-satunya beda di antara mereka. (hal. 1247)
Kutipan tersebut melecut diri saya agar selalu mempunyai semangat dalam hidup karena sesungguhnya hidup adalah belajar. Saat menjadi anak, kita belajar menjadi anak yang baik bagi orang tua. Ketika berumah tangga, kita belajar menjadi istri/suami yang baik bagi pasangan. Saat menjadi orang tua, kita belajar menjadi ibu/ayah yang baik bagi anak-anak. Saat ditinggal pasangan seperti saya saat ini, belajar mengikhlaskan, belajar menjadi single parent yang baik bagi anak-anak. Semoga Allah SWT memudahkan. Aamiin.
Oya, ternyata maqolah di atas masih kurang lengkap bagi saya sehingga harus saya tambahkan seperti ini.
Sebaik-baik teman duduk adalah buku dan Abi.
Sidoarjo, 7 Maret 2021.

Subhanallah. Tulisan yang luar biasa.
Terima kasih pak Ngainun Naim atas kunjungannya.
Duh… Beruntungnya pernah menjalani kisah hidup yang penuh makna…selamat Bunda Herna…
terima kasih bu Sri Rahayu kunjungannya.
terima kasih bu Sri Rahayu kunjungannya.
Tulisan yang benar2 bergizi. Makasih, Her.
terima kasih pak sudah mampir
Tulisannya selalu mantul
Luar biasa