Kejujuran  dan Kedustaan

Sumber:radiomutuaraalquran.com

Disarikan dari Kajian Tafsir Prof. DR. H. Moh. Roem Rowi, MA. untuk Pegawai YLPI Al Hikmah Jumat,  11 Desember 2020

Jujur dan berkata benar adalah pangkal dari segala kebaikan. Sebaliknya, dusta, kebohongan adalah pangkal dari segala dosa yang akan mencelakakan kita dunia akhirat.

Firman Allah dalam QS. At Taubah (9) ayat 119  artinya:   Hai orang-orang yang beriman selalu patuhilah Allah dalam segala hal, dan serulah kalian semua bersama orang-orang yang senantiasa jujur dan berkata benar.

Dalam ayat tersebut ada kata wakuunuu maashodiqin  (serulah kalian semua bersama orang-orang yang senantiasa jujur dan berkata benar) tidak menggunakan kata kerja sebab kata kerja dibatasi ruang dan waktu. Ada masa sekarang, masa dulu, dan masa depan. Ayat ini menunjukkan bahwa mematuhi Allah itu harus selalu dilakukan dan tanpa henti. Lawannya adalah dusta yang merupakan pangkal dari segala kejahatan.

Di akhir Surat Al Maidah (5: 116-119) disebutkan terjadi dialog antara Allah dan Nabi Isa a.s. Ia dikonfrontir di akhirat nanti. Apa benar ia memerintahkan umatnya untuk menyembahnya dan ibunya. Ternyata Nabi Isa a.s. membantah bahwa ia tidak pernah mengatakan demikian. Justru ia memerintahkan umatnya untuk hanya menyembah Allah. Kejujuran Nabi Isa ini akan membawanya pada surga yang kekal. Di ayat 119  kata kholidin artinya kekal ditambahi dengan abadan yang artinya abadi. Sebuah penegasan. Allah ridlo dan mereka pun ridlo. Itulah kemenangan yang paling agung.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda tentang pentingnya kejujuran. Hadist ini menekankan kita agar selalu berbuat benar, berkata benar, berbuat dan berkata jujur. Karena sungguh kejujuran dan kebenaran pasti akan menjurus kepada kebaikan. Di sini Allah mengajarkan agar kita selalu jeli dan teliti dalam berbuat karena kebaikan hanya menuju surga Allah. Kalau ingin ke surga pintunya adalah kebaikan, kejujuran.

Sebaliknya, dusta bohong itu pangkal fujur/kedurhakaan. Termasuk dusta dalam keimanan. Inilah yang disebut dengan munafik. Orang-orang munafik justru lebih parah dari orang yang kafir.  Mengapa demikian?  Kafir/musyrik itu masih jantan karena berani menampakkan sikapnya tapi munafik itu menyembunyikan sesuatu yang tidak baik. Sikapnya selalu bohong.

Tanda-tanda kemunafikan ada tiga yaitu:

  1. Kalau berbicara ia berbohong
  2. Kalau berjanji tidak menepati
  3. Kalau diberi amanah maka mengkhianati

Sebenarnya makna kata munafik ini sama dengan kata infak yaitu nafaka yang artinya membuat terobosan.  Sebagaimana terowongan yang menghubungkan daerah yang berbeda, atau jembatan yang memudahkan pergerakan orang dari satu tempat ke tempat yang lain. Orang-orang munafik ini menerobos antara iman dan kafir. Munafik ini tempatnya di neraka paling bawah.

Contoh munafik

  1. Munafik itu dusta. Dusta kepada Allah. Membuat kesaksian palsu. Dalam bahasa Rasul, syahadatut syuu… tidak menyaksikan tapi pura-pura menyaksikan. Biasanya mereka bersumpah dengan nama Allah tapi aslinya berbohong.
  2. Sumpah palsu. Dalam bahasa Rasul, al yaminul ghumus—- bersumpah atas nama Allah tapi bohong.
  3. Dusta dalam takaran/timbangan/ukuran

Dalam kehidupan sehari-hari banyak kejadian mencurangi takaran/timbangan atau ukuran. Contoh SPBU yang dusta, timbangan di pasar-pasar, dan sebagainya.

Pada dasarnya semua ciptaan Allah pakai takaran maka tegakkan timbangan dengan adil. Jangan mencurangi timbangan. Semuanya ada kadarnya/ukurannya. Begitu juga dalam kehidupan, ada keseimbangan lingkungan/ekosistem yang tergambar dari rantai makanan. Jika makanan di hutan habis karena manusia maka mau tidak mau binatang tersebut akan turun ke pemukiman penduduk.

Dalam diri kita pun ada takarannya: gula, trombosit dll. Kalau kurang dari takaran maka akan terjadi disharmonis.  Kalau ingin harmonis maka kita harus menjaga takarannya, menjaga keseimbangan.

Di pengadilan yang simbolnya timbangan pun tak jarang kita menemukan ketidakadilan. Di pasar-pasar banyak terjadi kecurangan timbangan. Dalam penerimaan pegawai pun sering terjadi kecurangan. Bohong dusta terjadi dalam seluruh aspek kehidupan kita.

Ada sebuah surat dalam Al-Quran yang berbicara tentang timbangan yaitu Surat timbangan  atau Al Mutafiffin (83). Surat ini menceritakan tentang fenomena mencurangi takaran/timbangan/ukuran. Orang-orang yang mengurangi timbangan untuk orang lain atau menambah timbangan untuk dirinya sendiri akan celaka. Kata celakalah dalam ayat 1 menunjukkan doa untuk sesuatu yang tidak baik. Orang-orang yang melakukan kecurangan di atas berarti dia tidak percaya pada hari kiamat. Padahal kiamat adalah sesuatu yang nyata. Kita semua akan dibangkitkan di hari yang sangat dahsyat—hari kiamat. Kita harus berdiri berbaris untuk dihisab. Ditimbang catatan amal kita. Jika amal baik kita lebih berat dari amal yang buruk tentu kita selamat.

Semoga Allah memberi perlindungan kepada kita semua dari akhlak yang buruk termasuk bohong dan dusta. Semoga kita selalu berkata jujur dan berbuat kebenaran. Aamiin

 

Surabaya, 23 Desember 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.