Fa Firru Ilallah

 

Judul Buku         : Secrets of Divine Love

Penulis                : A. Helwa

Alih Bahasa        : Marlina dan Arif

Penerbit             : PT Elex Media Komputindo

Tahun terbit       : 2021

Tebal                   : 400 halaman

 

Judul resensi ini saya ambil dari penggalan Surat Adz Zariat ayat 50. Fa firru Ilallah, berlarilah pada Allah. Saya rasa judul tersebut sangat mewakili isi buku Secrets of Divine Love ini. Buku yang akan membawa pembacanya menemukan (kembali) jalan menuju Allah. Cocok bagi para pencari Tuhan. Pas bagi para pemburu ketenangan. Atau siapa pun yang ingin meraih kematangan spiritual.  Bahkan untuk sekadar menyegarkan jiwa. Memberi jeda pada dunia yang sibuk dan terburu-buru. Continue reading “Fa Firru Ilallah”

Warisan bagi Para Pemimpin

Judul Buku: Titik Terang Kepemimpinan

Penulis      : Shakib Abdullah Allauw

Tebal          : 138 + xxii halaman

Cetakan     : 1, Juni 2024

Buku berjudul Titik Terang Kepemimpinan ini ditulis oleh Shakib Abdullah Allauw, Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Al Hikmah Surabaya. Ustaz Shakib, beliau biasa dipanggil berhasil membagi pengalamannya sebagai seorang pemimpin dalam bentuk tulisan. Tulisan akan melintasi batas ruang dan waktu. Sebuah legacy yang tak ternilai harganya.

Dalam ‘Kata Pengantar’ di buku ini, Prof. Dr. Ir. K.H. Mohammad Nuh, DEA bahkan menuliskan: “Keunggulan peradaban selalu ditandai dengan kuatnya budaya tulis, untuk itu tidak ada pilihan lain bagi kita, kecuali menjadikan budaya tulis sebagai gerakan, terutama para ‘scholar’ untuk memperkaya khazanah pemikiran untuk membangun peradaban yang unggul.” (hal.v)

Ustaz Shakib memilih jalan itu. Berkontribusi dalam membentuk pemimpin berkarakter. Pemimpin yang tidak saja cerdas, tapi juga berintegritas. Tidak saja saleh secara sosial tapi juga kuat secara transendental.

Buku ini istimewa. Perpaduan antara ilmu dan pengalaman. Pengetahuan dan jam terbang. Konsep dan praktik. Mengupas hal global sekaligus membedah detailnya.  Menyisir ranah-ranah strategi taktis. Sangat loman memberikan tips and tricks dalam mengelola tim dan berkomunikasi. Sangat pas sebagai panduan untuk mengembangkan potensi dan keterampilan dalam memimpin.

Konten buku ini terdiri dari 51 judul tulisan. Masing-masing tulisan tidak terlalu panjang tapi juga tidak terlalu pendek. Pada bagian akhir tulisan dilengkapi dengan ilustrasi yang merangkum poin penting. Seolah-olah memberikan jeda bagi pembaca untuk mengikat insight. Merefleksi diri sebelum melangkah ke tulisan berikutnya. Didukung oleh bahasa yang lugas, ringan, dan renyah menjadikan buku ini mudah “dikunyah”.

Pemimpin Berkarakter

Ustaz Shakib sangat peduli dengan akhlak. Seorang pemimpin harus memiliki akhlak yang baik. Pada tulisan ‘Seperti Air’ pembaca diingatkan agar selalu menghormat pada guru selain pada orang tua. Guru telah mewariskan nilai-nilai dalam hidup kita. Orang tua telah membimbing kita sejak kecil. Menunjukkan mana yang baik mana yang tidak. Mana yang harus dilakukan mana yang harus ditinggalkan. ‘Faktor Penting di Masa Kecil’ ini juga menjadi modal bagi pemimpin berkarakter. Pemimpin berkarakter akan lahir dari orang tua berkarakter.

Akhlak yang baik juga harus diterapkan pada orang-orang di tempat kita bekerja, tim work kita. Menurut beliau, untuk menjadi pemimpin yang berkarakter cukuplah Rasulullah Muhammad saw sebagai rujukan. Sifat-sifat siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabliq (bisa berkomunikasi dengan baik), dan fathonah (cerdas) harusnya menjadi pondasi bagi para pemimpin dalam berkarya.

Ustaz Shakib sangat detail. Bahkan yang menurut sebagian besar orang termasuk urusan kaleng-kaleng- meminjam bahasa anak muda sekarang- juga diperhatikan. Dalam tulisan berjudul ‘Receh tapi Ampuh’ disebutkan bagaimana seorang pemimpin harus menghafal nama setiap orang dalam timnya. Sesuatu yang sederhana namun bagi yang memiliki nama tersebut pasti akan merasa dihargai-diorangkan. Ternyata pimpinan ingat nama saya. Mungkin begitu di benaknya.

Selain mengingat nama, relasi sosial dengan karyawan di level bawah pun diajarkan di buku ini secara gamblang. “Cara paling mudah minta tolong belikan makan, uang kembaliannya diberikan. Atau bahkan langsung memberikan tanpa syarat.” Pembaca bisa mendapatkan hal ini di tulisan berjudul ‘Menunjukkan Empati’. (hal.53)

Jam terbang sebagai pemimpin yang cukup panjang memungkinkan ini semua. Growth mindset yang dimiliki Ustaz Shakib melengkapinya. Menurut beliau ada dua faktor penting bagi seorang pemimpin. Pertama, wawasan. Pemimpin harus cerdas. Ia harus memiliki jiwa pembelajar sejati. Tidak berhenti belajar meski sudah berada di posisi puncak. Ilmu Allah tidak akan habis untuk dipelajari. Kedua, jam terbang. Pengalaman. Tidak bisa dipungkiri, faktor ini juga menjadi penentu karakter seorang pemimpin dalam mengelola tim, mengambil keputusan.

Sebagai seorang pemimpin, hal krusial lain yang harus dilakukan adalah menyiapkan penerusnya. Bagaimanapun juga, tidak selamanya pemimpin akan terus memimpin. Akan tiba masanya mereka mendapat amanah lain. Bisa jadi dimutasi ke bagian lain, dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi. Bisa juga karena sudah sampai masa pensiun. Sehebat-hebatnya sebuah masa kepemimpinan, jika tidak ada penerusnya, maka lembaga tersebut tidak memiliki generasi penerus. (hal.76)

Saya jadi teringat buku karya Liz Wiseman yang berjudul Multipliers. Bagaimana seorang pemimpin bisa mengeluarkan potensi terbaik setiap orang yang dipimpinnya. Anggota tim merasa percaya diri, berani menelurkan ide-ide baru dan mendorong perubahan serta inovasi organisasi. Ini bekal kaderisasi, regenerasi. Seorang pemimpin yang baik mampu meng-kloning, menduplikat, melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang setidaknya berkualitas sama dengan dirinya.

Ternyata, sudah terlalu banyak yang saya spill dari buku ini. Tak elok rasanya. Saya harus membiarkan pembaca menikmati kalimat demi kalimat untuk mendapatkan mutiara kepemimpinan. Terima kasih Ustaz Shakib atas ilmunya. Barakallah umurnya. Barakallah ilmunya. Selamat atas peluncuran bukunya.

Oya, jika Anda termasuk yang mendapatkan buku ini, saya ucapkan selamat. Anda mendapatkan warisan yang tak ternilai harganya.

 

Sidoarjo, 12 Juli 2024

Buku sebagai Self-Reward

Judul Buku: Wanita Teladan

Penulis: Nur Cholis Huda

Editor: Nur Fathoni

Penerbit: Kanzun Books

Tebal: 103 hal

Terbit: Maret 2024

Saya mendapat hadiah buku ini dari pimpinan saya, kepala sekretariat YLPI Al Hikmah Surabaya. Beliau mendapatkannya dari tamu Universitas Muhammadyah Sidoarjo (UMSIDA) yang berkunjung ke yayasan beberapa waktu lalu.

Buku berjudul Wanita Teladan ini ditulis oleh Nur Cholis Huda, tokoh Muhammadyah Gresik. Tepatnya penasehat pimpinan wilayah Muhammadiyah Jawa Timur periode 2022-2027. Yang istimewa adalah ini buku ke 22 yang ditulisnya. Penulis ini mempunyai kebiasaan baik. Menerbitkan buku setiap bulan Ramadan sebagai wujud syukur atas semua karunia Allah Swt. Continue reading “Buku sebagai Self-Reward”

Menulis Buku dengan Kedipan Mata

source: en.wikipedia/org

Ya. Dengan Kedipan Mata.

Ceritanya begini. Beberapa hari yang lalu saya ingin sekali menonton film. Capek dengan rutinitas. Sepulang kerja setelah selesai urusan keluarga, saya mulai browsing film-film bertema penulis. Beberapa di antaranya pernah saya tonton. Akhirnya pilihan saya jatuh pada film lawas berjudul The Diving Bell and the Butterfly. Gila! Film ini memenangkan banyak penghargaan dunia. Semakin membuncahkan rasa penasaran.

Seperti biasa saya coba menebak kira-kira tentang apa ya film ini. Apa hubungan antara menyelam dan kupu-kupu? Saya lanjutkan mencari review-nya dan…..

Oh My God. This film is REMARKABLE!

LUAR BIASA! Continue reading “Menulis Buku dengan Kedipan Mata”

Menghidupkan Diponegoro dan Tan Malaka

Kapan Perang Diponegoro berlangsung? Tan Malaka dilahirkan di pulau mana? Itulah dua pertanyaan yang masih saya ingat saat saya duduk bangku sekolah dasar. Rupanya saya menemukan kembali pertanyaan ini saat mengukuti tes calon tenaga pengajar.

Sebuah pertanyaan yang mendorong anak didik menghafal angka (tanggal kejadian atau peristiwa) atau nama tempat. Pelajaran yang saya terima saat itu juga memberi kesan Perang Diponegoro sebagai perang “biasa” yang tidak berbeda dengan perang kemerdekaan lainnya. Ini hanya perang melawan dan mengusir Belanda dari tanah nusantara.

Namun, pengetahuan saya tentang Pangeran Diponegoro sontak berubah total usai membaca buku ( Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro1785-1855) (Penerbit Buku Kompas: 2014) karya Peter Carey yang merupakan versi “ringkasan” dari Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 (Kompas Penerbit Gramedia: 2012) dari penulis yang sama. Saya merasa seakan-akan Pangeran Diponegoro belum wafat. Carey berhasil menghadirkan sosok Diponegoro lebih hidup, lebih berwarna, dan lebih lengkap.
Misteri kehidupan Tan Malaka juga terkuak berkat tulisan Harry A. Poeze dalam bukunya setebal 2.200 halaman yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Tan Malaka: Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta: 2008) sebanyak enam jilid. Padahal, buku ini merekam jejak Tan Malaka mulai tahun 1945 dan sesudahnya atau sekembalinya dari Moskow. Saya benar-benar kagum ketelatenan Poeze mengumpulkan serpihan kehidupan Tan Malaka dan mengemasnya menjadi referensi berkelas dan nyaman dibaca.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana Peter Carey, Harry A Poeze, dan penulis-sejarawan Barat lainnya begitu piawai menghidupkan kembali sosok hebat Pangeran Diponegoro dan Tan Malaka? Jawabannya, karena mereka meneliti. Peter Carey menghabiskan 30 tahun untuk meneliti sejarah pangeran keturunan Keraton Yogyakarta itu, sedangkan Harry A Poeze membutuhkan 40 tahun.
Mengapa penulis Barat rela dan betah menghabiskan puluhan tahun untuk meneliti pahlawan dari negara lain? Mereka didorong oleh rasa ingin tahu (curiousity), bukan budaya menghafal sebagaimana yang terjadi pada pendidikan di Tanah Air. Kedua, pendidikan Barat mendorong orang mencintai pekerjaan mereka (passion). Passion itulah yang membakar tungku semangat terus menyala dan senantiasa mencintai pekerjaan. Ketiga, mereka sangat menghargai arti sebuah proses. Kegagalan sebuah penelitian bukanlah sebuah hal memalukan karena tidak semua penelitian membuahkan hasil.
Budaya Meneliti
PTK (Penelitian Tindakan Kelas), best practice adalah awalan yang tepat untuk mengungkit budaya meneliti di kalangan guru. PTK mendorong guru tidak hanya peduli terhadap masalah yang dihadapi anak didik, tetapi juga mencari solusi dengan memberi perlakuan-perlakuan tertentu kepada mereka.
Sejalan dengan PTK, best practice juga intinya merupakan “laporan” pengalaman nyata dalam memecahkan masalah pembelajaran dan pengelolaan kelas (guru), masalah di tingkat satuan pendidikan (kepala sekolah), dan masalah di level kepengawasan (pengawas sekolah).
Ketika kegiatan PTK dan best practice digarap berkesinambungan, saya yakin akan menumbuhkembangkan budaya meneliti dan literasi di kalangan pendidik. Meneliti dalam lingkup paling kecil (kelas) akan menjadi kebiasaan yang menyenangkan dan menggairahkan apalagi bila disertai insentif berupa lomba-lomba dan sejenisnya.

Oleh: Hernawati Kusumaningrum -Guru SMP Al Hikmah Surabaya
Tulisan ini pernah dimuat Harian Republika 23 September 2014, ini link-nya