Pendidikan Sosial Emosional untuk Mewujudkan Well being Students

Koneksi Antar Materi Modul 2.2. dengan modul lainnya

Dalam sebuah grup WA yang saya ikuti pernah saya temukan perdebatan sesama guru terkait mutu pendidikan di masa pandemi seperti ini. Guru A ini menanyakan mutu akhlak, budi pekerti atau karakter. Menurutnya, kalau mutu akademik mungkin masih bisa diperhitungkan, tetapi budi pekerti, karakter apa bisa ditumbuhkan dalam kondisi Pembelajaran Jarak Jauh seperti saat ini?

Guru B bersikukuh bahwa kondisi PJJ pun kita bisa menumbuhkan karakter. Tergantung bagaimana guru mengelola pembelajaran yang diampunya.
Menurut saya, pendapat guru A tidak salah. Dalam pembelajaran normal, guru bisa mengawal penuh semua bentuk pembiasaan yang diprogramkan sekolah. Senyum, salam, sopan, santun, salat duha, berinfaq, dan semua praktik baik yang ada. Dengan belajar daring tentunya ada yang tereduksi. Mau tidak mau kita harus mengakui itu. Tetapi kalau lantas menafikkan bahwa PJJ tidak mendorong tumbuhnya pendidikan karakter saya juga kurang setuju. Saya setuju dengan guru B meski PJJ kita masih bisa menyuntikkan karakter dalam pembelajaran meski tidak sekuat ketika pembelajaran offline.

Untunglah saya mengikuti Pendidikan Guru Penggerak ini. Di modul 2.2. kami berkenalan dengan Pendidikan Sosial Emosional (PSE) yang merupakan adaptasi dari Collaborative for Academic Social Emotional Learning (CASEL). Pembelajaran yang mengintegrasikan kompetensi sosial emosional.
Kompetensi ini sangat dibutuhkan agar survive dalam kehidupan. Anak sukses bukan hanya secara akademik
an sich tetapi juga mempunyai karakter yang baik yang menjadi modal dalam kehidupan bermasyarakat. Cerdas secara akademik dan santun secara moral.

5 Core Values
Di dalam PSE ini, anak akan diajari kompetensi sosial emosional yang mencakup lima nilai inti yaitu kesadaran diri (self-awareness), pengelolaan diri (self-management), kesadaran sosial (social awareness), keterampilan relasi (relationship skills), dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (responsible decision making).

Mengenali diri, menyadari diri adalah hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Ada emosi-emosi dasar yang harus dikenali anak agar tidak salah dalam melangkah. Mengenalkan anak dengan emosi-emosi dasar seperti senang, sedih, marah, kaget, dan sebagainya akan memudahkannya dalam mengelola perasaan yang sedang dialaminya. Mereka harus bisa
membedakan apa itu sedih dan khawatir misalnya.
Proses kesadaran ini akan membantu anak dalam mengelola dirinya. Kapan ia harus marah dan apa yang harus dilakukan saat marah contohnya.

Dalam PSE dikenalkan teknik STOP ketika menghadapi kondisi tertentu. Tidak hanya marah saja tetapi semua kondisi yang membutuhkan atmosfir ketenangan. STOP merupakan singkatan dari Stop (berhenti dari semua kegiatan), Take a deep breath (ambil napas dalam-dalam), Observe (perhatikan, rasakan semua yang ada), dan Proceed (lanjutkan).

Setelah sadar diri, trampil dalam mengelola diri maka kompetensi yang diajarkan meningkat menjadi sadar sosial. Bagaimana anak diajarkan untuk memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesama, orang-orang di sekitarnya. Orang dikatakan sukses bukan karena ia sukses dengan dirinya sendiri
melainkan seberapa besar kebermanfaatannya bagi orang lain.

Sebagai makhluk sosial, manusia harus menjalin hubungan dengan orang lain. Karenanya dibutuhkan keterampilan relasi (relationship skill). Keterampilan ini sangat dibutuhkan karena tidak selamanya anak menghadapi jalan yang mulus. Apa yang sudah direncanakan dengan sangat matang bisa jadi
tidak sesuai dengan kenyataan. Di sinilah dibutuhkan relisiensi (daya lenting), daya juang, ketangguhan dalam menghadapi masalah.

Contoh sederhana ketika mengikuti lomba. Segala persiapan sudah dilakukan, saat lomba sudah merasa melakukan yang terbaik. Nah, ketika diumumkan ternyata tidak menjadi pemenang. Nah, kalau anak tidak tangguh apa yang terjadi? Tentu ia merasa dunia ini sudah berakhir. Namun ketika
anak tersebut mempunya reliensi yang tinggi maka ia akan menerima bahwa kekalahan bisa  menjadi pelajaran untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Ada tiga sumber yang bisa digunakan untuk menjadi pribadi dengan daya lenting tinggi yaitu I have, I am, dan I can. I have berkaitan dengan apa yang kita miliki termasuk di dalamnya adalah dukungan sosial dari sekitar. Seorang anak akan punya dukungan dari orang tua, guru, peer group, dan sebagainya. I am adalah sumber ketangguhan dalam diri sendiri. Bisa dalam bentuk perasaan, sikap, dan keyakinan diri. I can adalah sumber relisiensi yang berupa usaha yang bisa dilakukan seseorang. Segala bentuk kemampuan yang dimiliki seseorang yang mampu digunakan sebagai bekal dalam menghadapi tantangan kehidupan. Kemampuan bersosialisasi, berkomunikasi, melakukan persuasi dan sebagainya.

Salah satu kemampuan penting yang harus dipunyai anak adalah kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Hal ini tidak mudah tetapi bukan berarti tidak bisa dikuasai. Tugas kitalah sebagai guru harus memberikan bekal keterampilan ini kepada anak. Strategi yang bisa kita ajarkan dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab adalah POOCH. Problem (Masalah), Options (alternatif pilihan), Outcomes (hasil atau konsekuensi), Choices (keputusan yang diambil), dan How (bagaimana hasilnya). Strategi ini perlu kita ajarkan agar anak-anak mampu menjadi pengambil keputusan yang bertanggung jawab sejak dini.

Kelima kompetensi ini bisa diajarkan dalam tiga strategi yaitu kegiatan rutin di luar pembelajaran, terintegrasi dalam pembelajaran, dan protokol (tata tertib). Harapannya, anak-anak tumbuh menjadi generasi cerdas dengan keterampilan sosial emosional yang baik sehingga mereka akan menjadi well being students.

Koneksi Antar Materi
Modul 2.2 (PSE) ini tentu saja tidak terpisahkan dengan modul-modul sebelumnya. Saling terkait. Saling berkelindan. Dengan modul 2.1 (Pembelajaran Berdiferensiasi) contohnya. PSE bisa diterapkan
dalam pembelajaran sehari-hari baik pembelajaran yang dilakukan itu berdiferensiasi konten, proses, maupun produk. PSE semakin menguatkan pondasi pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan guru. Selain terintegrasi dalam pembelajaran, PSE juga bisa diterapkan dalam kegiatan rutin yang dilakukan sekolah dan protokoler.

Kaitan modul 2.2 ini dengan modul 1.4 (Budaya Positif) sangat erat sekali. Praktik-praktik baik yang sudah menjadi budaya positif sekolah mengakar pada kompetensi sosial emosional yang ada. Karakter-karakter baik seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab sesungguhnya telah menjadi bagian
penting dalam PSE.

Sementara itu, kaitan modul 2.2 ini dengan modul 1.3 (Visi Guru Penggerak) adalah bagaimana mewujudkan visi murid yang well being dengan melibatkan semua kekuatan positif yang ada di sekolah. Murid yang tidak hanya pandai secara akademik tetapi juga memiliki 5 kompetensi inti PSE yaitu self awareness, self management, social awareness, relationship skill, dan responsible decision making. Kita bisa melakukan BAGJA dalam menganalisis kebutuhan tersebut dengan mengakomodir kekuatan positif yang ada di sekolah.


Kaitan modul 2.2 dengan modul 1.2 (Nilai dan Peran Guru Penggerak) adalah PSE digunakan sebagai bekal bagi guru dalam memperkuat nilai guru penggerak seperti mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid. Pun akan memperkuat perannya sebagai pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antarguru, dan menggerakkan kepemimpinan murid. Kalau guru sudah menguasai PSE dengan baik akan mudah baginya menyalurkan kelima kompetensi sosial emosional pada siswa yang diajarnya. Guru sebagai role model yang selalu menjadi panutan siswa.


Terakhir, kaitan modul 2.2 dengan modul 1.1 (Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara) adalah PSE memberikan bekal yang cukup bagi guru untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Bagi siswa sendiri, kelima kompetensi sosial emosional yang diajarkan guru akan menjadi bekal bagi mereka dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
Selanjutnya, karakter beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, yang ada dalam profil pelajar Pancasila tersebut akan menjadi bekal mereka dalam hidup bermasyarakat kelak ketika dewasa. Mereka akan menjadi pribadi yang tenang—tidak grusa grusu-, mempunyai daya empati dan reliensi yang tinggi, serta menjadi para pengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Semoga.

 

Sidoarjo, 11 Agustus 2021

Berbagi Aksi Nyata

Tampilan Berbagi Aksi Nyata di LMS Pendidikan Guru Penggerak

Kegiatan saya agak longgar hari ini. Setelah menyelesaikan raker Tim Pengembang SMP Al Hikmah Surabaya kemarin saya masih harus menyelesaikan beberapa hal terkait kelas internasional. Tahun ini sekolah saya membuka layanan kelas internasional sebagai jawaban atas kodrat alam dan kodrat zaman. Borderless country – negara-negara nyaris tak berbatas. Ruang dan waktu. Apa yang terjadi beribu-ribu mil dari tempat tinggal kita bisa kita saksikan seolah-olah ia terjadi di lingkungan sekitar kita. Tepat di depan mata kita. Pada waktu yang sama. Exactly.

Selesai mengkoordinasikan beberapa hal dengan tim kelas internasional, saya membuka-buka LMS Pendidikan Guru Penggerak. Refreshing. Saya buka modul 1.4. tentang budaya positif. Tepatnya pada bagian Berbagi Aksi Nyata. Saya ini orangnya senang belajar. Karakter kuat saya adalah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Bahasa kerennya kepo… hahaha. Continue reading “Berbagi Aksi Nyata”

Mengembangkan Kelas Internasional

Bersama Pengajar Praktik Guru Penggerak-Bapak Mifta Churohman saat pendampingan di SMP Al Hikmah Surabaya

Unggahan kali ini tentang tugas saya di Pendidikan Guru Penggerak tentang Aksi Nyata di Modul 1.4 tentang Mengembangkan Kelas Internasional.

Bagian Pertama tentang rencana aksi. Bagian kedua tentang artikel refleksi apa yang telah saya lakukan terkait aksi nyata ini. Selamat membaca.

  1. PGP- Angkatan 2-Kota Surabaya- Hernawati Kusumaningrum-1.4-Rancangan Aksi

Nama Program: Kelas Internasional SMP Al Hikmah Surabaya

Target: 2 kelas (1 kelas putra, 1 kelas putri)

Strategi Pelaksanaan:

TAHAPAN Terlaksana/Belum/Tidak Keterangan
1. Observasi ke SMA Al Hikmah Surabaya

2. Melaporkan ke Kepala Sekolah hasil observasi

3. Presentasi di depan manajemen SMP

4. Presentasi di depan tim bahasa Inggris

5. Pembentukan tim kelas internasional

 

 

 

 

 

 

 

 

6. Mencari/membangun networking dengan sekolah-sekolah berbasis internasional

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7. Membangun komunitas praktisi

8. Menyiapkan seleksi

9. Menyiapkan administrasi pembelajaran

10.Melakukan pembelajaran sesungguhnya

 

Terlaksana

 

Terlaksana

 

Terlaksana

 

Terlaksana

 

Terlaksana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terlaksana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum

Belum

Belum

 

Belum

 

 

 

 

 

 

 

 

·      Tim sudah tebentuk namun sepertinya kolaborasi belum berjalan optimal. Semua sibuk dengan tugas akhir masa pelajaran masing-masing.

 

 

·       Generation Global- info dari Al Azhar Jakarta

·       Madani School, Bagian Internasional UNESA, AISEC—info dari Pak Mifta

·       Alumni SMP Al Hikmah yang berkecimpung di bagian internasional kampus

 

 

 

·      Dalam proses pembuatan alat tes, masih terkendala urusan teknis

 

 

Continue reading “Mengembangkan Kelas Internasional”

Membangun Budaya Positif di Sekolah

Apa sih budaya positif itu? Mari kita lihat dua kata ini, budaya dan positif. Menurut Koentjaraningrat budaya merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Positif adalah lawan dari negatif. Secara umum artinya sesuatu yang baik. Sederhananya, budaya positif adalah nilai-nilai, gagasan, tindakan, dan karya-karya baik dalam kehidupan bermasyarakat. Continue reading “Membangun Budaya Positif di Sekolah”

4 Kompetensi Guru Penggerak

Catatan Lokakarya 1 Pendidikan Guru Penggerak (PGP)  Angkatan 2

Presentasi Kompetensi Guru Penggerak

Hari Sabtu, 29 Mei 2021 saya mengikuti Lokakarya 1 Pendidikan Guru Penggerak (PGP)  Angkatan 2 bagi Wilayah Mitra Provinsi Jawa Timur. Acara yang diikuti oleh 97 Calon Guru Penggerak (CGP) dan 11 Pengajar Praktik (PP) tersebut bertempat di dua lokasi berbeda. CGP Surabaya terbagi dalam 6 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 15 sampai 18 CGP. Kelompok Surabaya 1 sampai 3 bertempat di Hotel Bisanta Bidakara  dan  kelompok Surabaya 4 sampai 6 di Surabaya Suites Hotel. Saya termasuk kelompok Surabaya 2. Pengajar Praktik di kelas saya Pak Sastro dan Pak Rahmad. Continue reading “4 Kompetensi Guru Penggerak”

Kreativitas

Salah satu kandungan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah perubahan. Perubahan menjadi satu-satunya hal di dunia ini yang konstan. Siapa yang tidak bisa mengikuti perubahan, siap-siap saja ditelan zaman.

Bagi kita yang berkecimpung di dunia pendidikan, hal ini menjadi sangat penting. Guru sebagai agen perubahan di masyarakat bertanggung jawab menyiapkan sumber daya manusia  (SDM) yang berkualitas. SDM yang tangguh terhadap perubahan, mumpuni, dan berdaya saing tinggi.

Salah satu indikator SDM yang berdaya saing tinggi adalah kreatif. Kreativitas menjadi salah satu dari 4 keterampilan utama yang wajib dimiliki siswa di abad 21. Ketiga lainnya adalah berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi. Itulah mengapa kreatif juga menjadi salah satu Profil Pelajar Pancasila yang harus kita kawal dalam mewujudkannya. Continue reading “Kreativitas”

Trapesium Usia

Trapesium usiaku (sumber: dokumen pribadi)

Apa itu? Saya juga baru mengenalnya dan harus membuatnya karena menjadi bagian dari tugas Modul 1.2. a.3 Mulai dari Diri — Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak. Tugas yang harus saya kerjakan di pekan kedua sebagai salah satu Calon Guru Penggerak Angkatan 2.  Nah, gambar di atas itu hasilnya. Continue reading “Trapesium Usia”

Insight

Ki Hajar Dewantara (sumber: newsdetik.com)

Insight  adalah hal yang kita dapatkan dari mempelajari sesuatu. Belajar bisa dengan cara membaca, mendengarkan, berdiskusi, mengikuti workshop, lokakarya dan sejenisnya.

Kali ini saya ingin berbagi insight yang saya dapatkan dari Pendidikan Program Guru Penggerak (PPGP) Angkatan 2 yang  sedang saya ikuti saat ini. Tulisan ini sekaligus sebagai tugas menyelesaikan modul  1.1.a.9. Koneksi Antar Materi – Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Setelah hampir dua pekan membaca, mengakrabi, dan memahami filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara saya merasa menemukan banyak wawasan  baru terkait pendidikan yang menginspirasi.  Saya mencatat beberapa di antaranya.

Sebelumnya, saya percaya bahwa anak-anak di kelas harus mendapatkan informasi yang banyak–berlimpah bahkan– sebagai bekal bagi kehidupan mereka kelak. Sebagai guru kita harus mengisi mereka dengan pengetahuan yang beraneka ragam agar mereka bisa kaya secara intelektual dan mampu survive  di zamannya.

Sebenarnya,  saya sudah memahami bahwa setiap anak itu unik hanya saja bagaimana cara kita mengelola keunikan itu yang masih jadi proses pencarian. Nah, dengan memahami filosofi Ki Hajar Dewantara  semakin memantapkan saya dalam mencari cara memahami setiap anak yang unik tersebut.

Dari materi yang saya dapatkan, diskusi dengan teman sejawat, diskusi di ajang virtual bersama teman-teman CGP lain dan fasilitator tentunya saya menemukan sebuah perubahan mendasar pada pola pikir saya terhadap pendidikan sesungguhnya.

Saya baru menyadari ternyata pendidikan itu bukan mengisi tetapi menuntun. Sebab anak sudah dibekali dengan potensi masing-masing. Dan setiap anak tidak sama potensinya. Anak-anak tumbuh menurut kodratnya sendiri. Ini keunikan individu yang saya maksud di atas.

Sebagai guru kita bertugas mengarahkan, merawat, menuntun, menumbuhkan kodrat yang dimiliki seorang anak. Seperti halnya anak yang baru belajar berjalan, tentunya ia punya potensi untuk berjalan. Kita menuntunnya, mengarahkannya, memudahkan jalannya. Ternyata, pendidikan seperti itu.

Setelah memahami hal tersebut, tentunya sebagai guru, kita mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Barangkali kita bisa berpegang pada dasar kerja pendidikan yang terkenal dengan Tri loka.

Ing ngarso sung tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Di depan memberi contoh, di tengah membangkitkan semangat, kreativitas, dan di belakang memberikan dukungan. Dengan demikian, kita bisa memosisikan diri dengan baik ketika bersama anak didik. Mementingkan mereka, memanusiakan mereka. 

Membangkitkan potensi mereka sehingga tumbuh kembang mereka bisa optimal yang pada akhirnya menuju tujuan pendidikan  itu sendiri. Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan tersebut adalah Tri Rahayu. Hamemayu hayuning sarira, hamemayu hayuning bangsa, dan hamemayu hayuning bawana. Memelihara keindahan diri,  menjaga dan memelihara bangsa serta menjaga dan merawat alam semesta. Artinya, pendidikan itu kunci kehidupan. Dengan pendidikan kita menaikkan harkat dan martabat kita, bangsa, dan alam semesta.

Relevansinya sekarang adalah dengan menjadi guru yang baik, yang merdeka, berpihak pada murid agar memudahkan kita mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan Profil Pelajar Pancasila. Pelajar yang tidak hanya pintar secara intelektual tapi juga santun secara moral. Memiliki empati yang tinggi, mampu memahami perbedaan,  berdaya saing tinggi, dan siap berkolaborasi dengan siapa saja. 

Semoga

 

Sidoarjo, 28 April 2021

 

Pendidikan dan Perubahan

Video dokumentasi lokakarya 0 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 Surabaya Kelas #20— Bisa dilihat  https://www.youtube.com/watch?v=tlI34QqdwHg&t=32s

Pendidikan adalah tempat bersemainya benih-benih kebudayaan. Kebudayaan ini akan mewujudkan sebuah peradaban. Dengan bahasa sederhana bisa kita katakan bahwa tugas guru tidak berhenti sebatas mentransfer informasi,  membersamai siswa, dan menuliskan nilai di akhir pembelajaran tetapi jauh lebih dalam dari itu.  Membentuk peradaban.

Itulah salah satu filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara (KHD) yang saya pelajari saat ini. Sebagai guru, terus terang saya malu baru kali ini mengakrabi pemikiran Bapak Pendidikan Nasional kita itu. Barangkali, kalau tidak tergabung dalam Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) ini saya tidak tergugah mempelajarinya. Saya yakin, saya bukan satu-satunya guru yang merasakan hal ini. PPGP ini menumbuhkan sebuah kesadaran baru akan arti pendidikan. Untunglah, saya bisa ikut terjaring dalam kesadaran berjamaah ini. Continue reading “Pendidikan dan Perubahan”