Tentara-Tentara Allah (4)

Ilustrasi Perang Khandaq. Sumber: risalahmuslim.id

Disarikan dari Kajian Tafsir Prof. DR. H. Moh. Roem Rowi, MA. untuk Pegawai YLPI Al Hikmah

Bahasan tentara-tentara Allah kali ini terkait dengan QS. At Taubah(9). Surat ini terkait dengan tiga orang sahabat Anshar saat itu yang tidak ikut berjihad di perang Tabuk karena takut musim panas yang terik. Ketika Rasulullah pulang dari perang tersebut dan mendengarkan keterangan ketiga sahabat ini, Rasulullah memberikan sangsi sosial. Tidak menjawab salam dan tidak  bicara dengan mereka. Hal ini berlangsung lebih kurang tiga bulan. Mereka bertekad mengikatkan diri di salah satu tiang masjid sampai Allah membebaskan mereka.

Surat ini terkait juga dengan kisah Ummul mukminin Aisyah, r.a. Ketika pulang dari perang Tabuk, kalungnya terjatuh. Aisyah mencarinya hingga ia tertinggal rombongan. Kemudian, seorang sahabat menemukannya dan mengantarkan ke rombongan semula. Saat itulah muncul gosip bahwa Aisyah telah bermain api dengan sahabat tadi. Sampai tiga bulan Rasulullah mendiamkan Aisyah hingga akhirnya Allah menurunkan Surat Taubah yang diawali dengan bara’ah ini. Bara’ah maknanya melepaskan diri/membebaskan diri.

Tentang tentara-tentara Allah ini bisa merujuk di QS. At Taubah ayat 25-26. Ayat 25 menceritakan tentang perang yang terakhir. Rasul dan sahabatnya lebih unggul dalam kesiapan perang. Mereka pun unggul dalam jumlah pasukan. Sementara kaum musyrikin tinggal sisa-sisanya, kaum Hawazin dan Thaif. Jumlah mereka pun kecil. Namun kaum muslimin terbuai, terpesona, terlena karena jumlahnya sangat besar. Ternyata jumlah besar pasukan itu tidak ada gunanya sama sekali. Karena terdesak musuh dan terpukul mundur sehingga bumi terasa sesak. Sebagian besar kalian melarikan diri. Kocar kacir lari menuju Mekkah. Di ayat 26 ternyata Allah berkenan menenangkan mereka dengan menurunkan tentara-tentara yang tidak kasat mata dan menimpakan azab kepada orang kafir.

Selain tentara yang tidak kasat mata tersebut, di QS. Yasin (36)  ayat 29 Allah bahkan menyebut tidak perlu tentara untuk menghancurkan orang kafir. Allah bisa membinasakan mereka dengan satu suara yang sangat keras dan menggelegar. Meskipun mereka bersembunyi di dalam benteng yang paling kuat pun sekalipus tentu akan tewas.

Selain di QS. At Taubah 25-26, tentara-tentara Allah yang tidak bisa dilihat ini bisa ditemui di QS. AL Ajzab (33) ayat 9- 11. Ayat ini tentang Perang Khandaq. Pasukan muslimin membuat parit separo kota Madinah. Inilah yang menghalangi pasukan musyrikin menyerang karena terhalang parit sehingga tidak sampai terjadi perang. Kemudian,  Allah menurunkan angin yang keras dan sangat dingin. Diturunkan juga tentara Allah yang lain yaitu para malaikat.

Ayat 10 itu merupakan gambaran Perang Khandaq. Pasukan datang dari atas—menerobos gunung karena menghindari parit. Dan dari bawah artinya dari dataran yang lebih rendah (barat) musuh sudah datang dari berbagai macam arah. Kondisi kaum muslimin begitu penuh dengan rasa was-was, terpana pada kondisi yang mencekam. Dan jantung mereka berdetak demikian cepat sehingga mereka pun sempat berprasangka yang tidak pada tempatnya pada Allah. Mereka mempertanyakan pertolongan Allah.

Ketika akhirnya kemenangan ada di pihak kaum muslim,  justru Allah mengajarkan cara mensyukuri kemenangan. Kaum muslim justru disuruh bertasbih dan beristighfar. Mengapa demikian? Karena Rasulullah dan para sahabat sempat bertanya-tanya tentang pertolongan Allah.  Maata nasrullah? Mana pertolongan Allah? Sebagaimana ada di QS. Al Baqarah 124. Padahal sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Demikianlah bahasan tentara-tentara Allah kali ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari setiap ayat Al-Quran yang kita pelajari. Aamiin.

Surabaya, 14 Desember 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.