Bulan Cinta Rasul

Kak Dewi Kajo dan Chika sedang berdialog tentang riwayat hidup Rasulullah Muhammad SAW

Sejak hari Senin kemarin kegiatan di unit  mulai dari KB-TK sampai SMA Al Hikmah Surabaya bernuansa Maulid Nabi Muhammad SAW. Saya memonitor, ikut bermain-main di TK sambil mengikuti acara Serunya Berkisah bersama Kak Dewi Bajo. Kisah kali ini tentang Rasulullah Idolaku. Di layar, bocah-bocah mungil tampak ceria mendengarkan Kisah Rasulullah.

Masing-masing anak mengenakan atribut kedaerahan. Ada yang memakai blangkon, ada yang memakai selendang, ada yang memakai udeng (ikat kepala). Para ustadzahnya pun demikian. Ada yang mengenakan kain ulos di bahunya, ada yang mengenakan selendang batik. Saya menduga, teman-teman TK ini merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Kak Dewi Kajo berkisah dengan membawa boneka bernama Chika. Kak Dewi mengajak Chika berdialog tentang Rasulullah. Di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Siapa nama ayah, ibu, paman, dan kakek yang telah merawatnya sedemikian rupa hingga ia menjadi pribadi yang jujur, al amin–yang bisa dipercaya. Dikisahkan tentang Raja Abrahah dengan pasukan bergajahnya yang menyerang ka’bah saat Rasulullah SAW dilahirkan. Allah menurunkan burung ababil yang membawa batu-batu dari neraka untuk mengusir pasukan tersebut. Cara menuturkan kisah ini sangat menarik sehingga saya melihat mata bocah-bocah ini berbinar. Beberapa di antaranya ada yang melihat bersama orang tuanya. Sempat terekam dialog di antara mereka. Mengkonfirmasi apa yang diceritakan Kak Dewi itu benar apa tidak.

Sementara itu SD sudah memulai acara Maulidan ini sejak pekan kemarin. Mereka menggelar lomba-lomba bertema Rasulullah baik yang diperuntukkan internal maupun eksternal. Lomba tahfidz, lomba mewarnai, lomba membuat kolase foto untuk eksternal. Untuk kalangan internal lomba yang diadakan adalah muroja’ah dan hafalan surat Al-fill, gema Sholawat nabi, lomba membuat video sholawat nabi dan berkisah tentang Rasulullah. Uniknya, kedua lomba yang terakhir harus dilakukan dengan anggota keluarga. Menurut ketua panitia lomba, hal ini dilakukan untuk menciptakan kolaborasi di antara anggota keluarga sekaligus menguatkan bonding di antara mereka. Sekolah sangat membutuhkan sinergi dengan keluarga dalam menguatkan pendidikan, apalagi di era pandemi saat ini.

SMP menggelar semesta bersholawat. Tampak di layar beberapa perwakilan ustad dan siswa melantunkan sholawat. Mereka tetap mematuhi protokol kesehatan, duduk berjarak dan  bermasker. Saya melihat beberapa menggunakan face shield. Sholawat demi sholawat dengan berbagai versi mengalir dengan syahdunya. Merinding saya dibuatnya. Acara dilanjutkan dengan tausiyah ringan dari ustad untuk para siswa. Mengingatkan mengapa mereka harus mencintai Rasulullah, mengidolakannya di atas idola-idola yang main stream sekarang seperti para artis dan sejenisnya.

Hari ini saya berselancar dari Unit SMP ke SMA untuk menikmati suguhan-suguhan yang luar biasa karena memang waktunya bersamaan. Rupanya SMA menggabungkan tiga event sekaligus: Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Sumpah Pemuda sekaligus Pekan Bahasa. SMA menggelar beberapa lomba di antaranya Stand Up Dakwah, Lomba Membaca Puisi, Membuat Video bertema Pemuda dan Islam.

Uniknya, dari semua informasi yang saya kumpulkan mereka semua sepakat mengikat makna Mauldi ini dalam bentuk literasi. Tentunya sesuai dngan tingkat perkembangannya. TK menggambar, mewarnai dan menulis kisah sederhana apa yang mereka ketahui tentang Rasulullah Muhammad SAW. SD sampai SMA menulis apa yang mereka ketahui, rasakan, dan teladani setelah memahami kisah Rasulullah Muhammad SAW. Guru akan mengumpulkannya dan mencetaknya dalam bentuk antologi per kelas. Semoga apa yang telah mereka upayakan mendapat balasan yang berlipat-lipat. Semakin mencintai Rasulullah SAW dalam bentuk yang nyata. Salah satunya berupa keteguhan iman dalam menegakkan Islam karena mereka adalah pemuda yang dalam 10 atau 20 tahun mendatang akan mewarnai karakter bangsa kita. Pemuda yang kuat akan menjadi hadiah terindah bagi bangsa. Semoga.

 

Sidoarjo, 28 Oktober 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.