Beberapa bulan terakhir ini di tempat saya bekerja sedang nge-trend istilah Agile education. Terjemahan bebasnya adalah pendidikan yang lincah dan taktis. Tujuannya untuk mengikuti perkembangan zaman yang serba cepat dan tidak menentu.
Apa sebenarnya konsep Agile itu? Saya mencoba merangkumnya dari paparan dua pembicara dalam forum Pembinaan Guru Online di YLPI Al Hikmah beberapa waktu yang lalu. Ustad Abdul Kadir Baraja selaku Ketua Pembina Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Al Hikmah dan Prof. DR. Muchlas Samani, Guru Besar UNESA.
Ustad Kadir menyebutkan bahwa kondisi saat ini ibarat berada dalam sebuah kapal besar yang diterpa gelombang laut yang luar biasa. Banyak lembaga-lembaga besar yang umurnya ratusan tahun berguguran.
Sebut saja Rolex yang beroperasi pertama kali tahun 1750. Diterpa gelombang Perang Dunia (PD) I Rolex masih eksis, PD2 tetap eksis, beberapa pandemi ia masih bertahan. Namun, pandemi Covid-19 membuatnya tak mampu melanjutkan produksi.
Sekarang, kapal Al hikmah pun mengalami gelombang. Apakah harus berhenti?
Tidak.
Lalu, bagaimana kita bisa survive? Kita bisa sampai tujuan dan selamat dengan cara mengganti mesin yang lebih canggih. Mungkin muncul koridor pembatas yang tidak bersahabat tapi harus dijalankan. Pembelajaran Daring, misalnya.
Menurut Ustad Kadir, Agile education hanya bisa dijalankan dengan tanggung jawab. Tanggung jawab ini melahirkan inovasi. Untuk berinovasi, guru harus terus belajar. Percepatan di bidang IT menjadi sebuah keharusan.
Di masa sekarang, IT menjadi tuntutan bagi guru. Kebutuhan IT seperti listrik, tidak bisa ditawar. Perubahan harus diikuti, dipelajari terus sebagai alat menciptakan inovasi dalam bekerja dan bertanggung jawab.
Apa yang dipertanggungjawabkan?
Anak bangsa.
Negeri ini merdeka karena kontributor darah para ulama. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mengisi kemerdekaan dengan 2 hal.
1. menciptakan/memproduksi SDM berkualitas untuk NKRI
2. menciptakan lapangan kerja
Untuk berkontribusi, dibutuhkan lembaga pendidikan yang berkualitas. Ada guru sebagai operator pendidikan yang bertanggung jawab. Butuh inovasi, berpikir terus. Apalagi dalam kondisi ketidaknormalan ini.
Ketidaknormalan ini akan menghadirkan perubahan. Hanya lembaga, personal, institusi yang bisa berubah itu yang bisa berkembang. Sejarah menunjukkan perubahan itu berawal dari sesuatu yang tidak ada.
Yang berubah, yang bertanggung jawab, yang berjalan diterpa gelombang bukan kita saja. Semua berusaha berjalan.
Seberapa besar usaha kita, sebesar itulah hasil yang kita dapatkan.
Seperti yang sering kita dengar: hasil tidak pernah mengkhianati usaha.
