Sudah lama saya memimpikan Scoopy putih. Di mata saya, motor ini tidak hanya cantik tetapi juga menarik. Jatuh hati saya dibuatnya. Setiap berkendara saya selalu berdoa agar bisa memiliki Scoopy putih. Suatu hari nanti. Namun, saya belum berani menuliskan Scoopy Putih sebagai wish lists secara terang-terangan. Tahu diri.
Sebagai single parent saya tidak berani macam-macam. Bisa makan dan memberikan pendidikan yang layak kepada anak-anak adalah prioritas saya. Dengan izin Allah, saya bisa menjalankan amanah tersebut dengan baik. Insya Allah kami tidak pernah kekurangan. Untuk keinginan-keinginan lain, saya harus menahan diri. Saya tanamkan pada diri saya dan keempat anak saya agar semua pengeluaran keuangan harus berdasar atas azas kebutuhan. Sekali lagi-KEBUTUHAN.
Akhirnya datang juga kebutuhan memiliki motor baru. Putra ketiga saya harus keluar asrama tahun ini. Ia berkuliah di UIN Malik Ibrahim Malang. Mahasiswa tahun pertama harus tinggal di asrama. Mondok. Ia tidak butuh motor. dan tidak boleh bawa motor. Tahun kedua, ia harus keluar asrama karena asrama akan dipakai oleh mahasiswa baru.
Sebenarnya ada opsi untuk tetap tinggal di asrama. Mengurusi adik tingkat. Ia tidak memilih opsi itu karena berbagai alasan. Saya tidak bisa memaksanya. Bersama keempat temannya mereka mengontrak sebuah rumah seharga 20jt per tahun. Urunan 5 juta per anak. Lokasi kontrakan tentu di luar kampus. Dia butuh motor untuk keperluan kuliah.
Di sinilah momentum mimpi Scoopy putih hadir kembali. Saya memikirkan bagaimana cara mewujudkannya di tengah hiruk-pikuk kebutuhan hidup lainnya. Semesta pun sepertinya mendukung. Saya katakan demikian karena setiap berangkat dan pulang kerja, saya semakin sering bertemu dengan Scoopy putih. Dan sesering itulah saya berdoa agar Allah mengabulkan pinta saya.
Pernah suatu ketika saya bersorak kegirangan saat berpapasan dengan 2 truk besar berisi Scoopy putih di Bundaran Waru arah ke Sidoarjo. Jalanan lengang saat itu sehingga sontak saya berteriak selepas-lepasnya,” Scoopy putih ya Allah… beri satu ya Allah…. ” Saya ulang-ulang.
Si bungsu yang saya bonceng sampai terkejut. “Kaget aku, Mik!” serunya disambung tawa yang renyah,”hahaha…”
Saya lajukan Beat yang saya kendarai mendekati truk berisi barisan Scoopy putih yang tertata rapi itu. Mereka benar-benar berada di samping saya. Saya nikmati kecantikannya dan berharap bisa memilikinya.
“Scoopy putih ya Allah… satu ya Allah…” ” Aamiin ya Allah…”
Lalu kami berdua tertawa lebar. Merayakan kekonyolan kami.
***
Niat saya sudah bulat. Saya harus beli motor baru. Beat yang biasanya saya pakai akan saya kirim ke Malang untuk putra saya. Sebenarnya masih ada Mio jadul tapi kondisi yang kurang fit di jalan sehingga saya lebih memilih Beat dikirim ke Malang.
Saat itu mendekati hari raya Idul Fitri. Ya, THR. Itu salah satu opsi pendapatan yang bisa disisihkan. Plus tabungan yang tidak terlalu banyak. Untuk jaga-jaga jika membutuhkan sesuatu. Kebutuhan hari raya biasanya cukup besar. Mudik dan printilannya. Saya mengorganisir semua yang harus ditunaikan menjelang dan saat hari raya. Mulai dari zakat fitrah sampai angpao para ponakan. Kue-kue lebaran, pakaian, transport sampai bawaan untuk ke desa. Hmmm…. ternyata banyak juga.
Semesta benar-benar mendukung. Selain sisa-sisa THR, alhamdulillah TPP cair. Royalti buku yang pernah saya tulis pun ikut mencair. Dana Takaful pun waktunya klaim. Pokoknya saya kumpulkan semua pundi-pundi agar mewujud Scoopy putih. Saya harus membelinya cash.
Saya mulai browsing bagaimana cara membeli motor, melihat-lihat review motor di yutube. Membandingkan antara Scoopy dan Fazzio (karena bungsu saya lebih tertarik Fazzio). Scoopy pun ternyata memiliki banyak varian. Beberapa yutuber memberikan edukasi yang sangat baik pada saya yang awam terkait dunia otomotif ini. Setelah yakin pada pilihan saya, saya kontak teman yang pernah membeli motor ini setahun yang lalu.
Bismillah, hari Ahad 18 Mei 2025 saya meluncur ke salah satu dealer Honda di kawasan Gajah Mada Sidoarjo. Sesampainya di sana saya lihat banyak motor beragam tipe dan varian. Saya sudah menetapkan pilihan: Scoopy Prestigue berwarna putih. Langsung saja saya menuju ke sudut showroom tempat Scoopy putih bertengger. Menurut sales yang mendampingi saya, harga motor tersebut dibandrol 24.650.000 rupiah.
“Loh, kemarin saya baca di inet kok 23.350.000 ya Mas sudah OTR,” jawab saya, “Apa tidak bisa kurang ke 23 sekian itu?” sambung saya.
Ia segera beralih ke sales yang lain. Seorang ibu yang tampaknya seumuran saya. Ia segera mendekati saya dan mengatakan kalau kemarin ada perubahan harga. Saya tawar di titik 24 juta. Tidak kena.
“Begini saja, supaya genap. 24,5 saja,” imbuhnya.
Saya diarahkan ke meja dan sales itu memberi beberapa penjelasan. Akhirnya saya menyetujui membeli Scoopy itu di harga 24,5 juta. Karena hari itu hari Ahad, saya tidak bisa melakukan transaksi di bagian administrasi. Saya hanya membayar uang muka 500 ribu sebagai tanda jadi. Keesokan harinya baru saya transfer 24 juta. Akhirnya saya benar-benar meraih mimpi saya: Scoopy putih.
Sidoarjo, 3 Juni 2025
