
Dunia sedang kekurangan guru. Dalam Global report on teachers: What you need to know (https://www.unesco.org/, 22/2/24) disebutkan bahwa ada kebutuhan mendesak sebanyak 44 juta guru sekolah dasar dan menengah di seluruh dunia pada tahun 2030. Mencakup permintaan tujuh dari sepuluh guru di tingkat sekolah menengah dan kebutuhan untuk menggantikan lebih dari separuh guru yang meninggalkan profesinya. Laporan tersebut adalah hasil kolaborasi antara UNESCO dan Satuan Tugas Internasional tentang Guru untuk Pendidikan 2030.
Kekurangan guru tersebut tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang namun juga di wilayah berpendapatan tinggi seperti Eropa dan Amerika Utara. Meskipun sistem pendidikan memiliki sumber daya yang baik, wilayah-wilayah ini kesulitan merekrut dan mempertahankan pendidik yang berkualitas, sehingga menimbulkan tantangan besar terhadap kualitas dan kesetaraan pendidikan.
Bagaimana dengan negeri kita? Indonesia akan mengalami kekurangan 1,3 juta guru pada tahun 2024 karena banyak guru yang pensiun. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan dalam sebuah podcast Unlocking Potential Tanoto Foundation beberapa waktu lalu. Ditambah dengan profesi guru yang kurang diminati oleh generasi muda menjadi potensi Indonesia kekurangan guru. Walaupun demikian, beliau menyatakan bahwa pemerintah telah mengimplementasikan beberapa strategi untuk mencegah terjadinya kekurangan guru yang mendesak di Indonesia. (https://www.tanotofoundation.org/, 31/8/23)
Pertanyaannya, mengapa banyak generasi muda kurang berminat menjadi guru? Banyak faktor. Salah satunya, gaji guru yang masih rendah. Kompensasi finansial ini menjadi faktor yang cukup potensial menghalangi anak muda menjadi guru. Guru menjadi profesi yang lekat dengan kalangan “elit”- ekonomi sulit.
Status ekonomi ini berakibat pada status sosial. Sebagian masyarakat masih memandang profesi guru dengan sebelah mata. Guru menjadi minder. Mereka tidak punya kebanggaan dengan profesinya. Akibatnya, anak-anak muda dengan kecerdasan prima tidak berminat menjadi guru. Mereka lebih memilih profesi lain yang lebih menjanjikan. Lebih membanggakan. Intinya, penghargaan terhadap profesi ini masih rendah.
Kedua, beban kerja yang berat. Menjadi guru ternyata tidak hanya mengajar saja tetapi masih ada kompensasi lain yang mengikutinya. Urusan administrasi, mengelola kegiatan-kegiatan di luar pembelajaran misalnya. Saking banyaknya urusan sampai tidak sempat mengembangkan diri.
Dua hal ini hanya sebagian alasan kurang berminatnya kaum muda menjadi guru. Kalau hal ini dibiarkan terus tentu masa depan bangsa dalam ancaman. Tidak ada guru yang lahir. Menggantikan guru-guru senior. Kita belum bicara tentang kualitas. Guru-guru berkualitas akan melahirkan murid-murid yang berkualitas. Murid yang berkualitas akan membentuk bangsa yang berkualitas.
Kalau guru menjadi profesi terakhir yang dipilih, bagaimana kita berharap bangsa ini menjadi bangsa yang berkualitas?
Bangga Jadi Guru
Apa yang harus dilakukan agar anak muda melirik profesi guru ini? Pertama, meningkatkan kualitas ekonomi dan status sosial guru. Memberikan penghargaan yang tinggi terhadap profesi ini. Menumbuhkan kebanggaan menjadi guru. Guru adalah profesi yang mulia. Guru adalah profesi yang benar-benar dibutuhkan bagi sebuah bangsa. Kita semua tahu ketika Jepang porak-poranda karena bom atom, yang dicari pertama adalah berapa orang guru yang tersisa. Di negara-negara yang maju, posisi guru sangat diperhitungkan. Di Finlandia, anak-anak muda yang cerdas yang diproyeksikan sebagai guru. Kita sedang merindukan kondisi yang seperti ini. Kabarnya, dulu di negara kita profesi guru juga pernah menjadi sangat penting.
Kedua, pemerintah harus mengembangkan suatu formula bagaimana agar beban kerja guru tidak terlalu berat. Bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan guru. Akses pengembangan diri yang luas bagi guru agar tumbuh dan berkembang. Guru pun harus memiliki growth mindset, motivasi untuk selalu belajar agar selalu up-to-date. Tentunya dibutuhkan kolaborasi banyak pihak untuk melahirkan guru-guru muda yang berkualitas. Guru yang bangga dengan profesinya.
Malang, 26 September 2024
