Belajar Menulis Antologi

 

Saya tidak bisa mengikuti pelatihan RVL Batch 3 kemarin sore, Senin (11/3/24) karena sedang ziarah kubur. Ritual tahunan bagi masyarakat muslim pada umumnya menjelang Ramadan. Untunglah teknologi memudahkan semuanya saat ini. Saya masih bisa menyaksikan agenda pelatihan tersebut. Di antara rinai hujan subuh, saya menikmati isi pelatihan tersebut. Sekaligus me-recharge pengetahuan terkait antologi. Ini saya sematkan link-nya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=DdQCF_AqMA4

“Antologi adalah jembatan bagi pemula untuk bisa menulis buku mandiri,” tutur Ibu Sri Sugiastuti sering dipanggil dengan Bu Kanjeng- pemateri acara tersebut.

Ini benar sekali. Saya bisa menulis buku solo karena menulis antologi di awal karir sebagai guru penulis. Saya masih ingat sekali, saat itu dosen saya, Pak Khoiri menginisiasi penulisan antologi tentang guru yang berjudul Empati Guru Untuk Bangsa (2012).

Tidak lama kemudian saya terlibat dalam antologi Adam Panjalu (2013) dan banyak disusul oleh antologi berikutnya sampai saya berani menulis buku solo karena tuntutan. Mengikuti Lomba Guru Berprestasi. Ah, kok jadi cerita tentang saya ini. Maaf. Saya hanya ingin memberi penekanan bahwa apa yang diuraikan bu Kanjeng benar adanya. Antologi adalah jembatan bagi penulis pemula untuk bisa melahirkan buku solo.

Antologi sendiri artinya adalah kumpulan/bunga rampai berbagai tulisan dari beberapa penulis. Secara sederhana nulis antologi artinya nulis keroyokan. Bisa dalam bentuk puisi, cerita pendek, esai, artikel, dan lainnya. Dalam satu antologi biasanya terdiri dari satu genre tulisan dan satu tema. Apakah itu puisi, esai, catatan perjalanan tergantung pada komunitas penulis yang memiliki frekuensi yang sama. Keragaman tulisan dalam satu tema tersebut menjadi kekuatan dari antologi.

Pemateri yang punya sebutan Ratu Antologi ini menyebutkan beberapa manfaat menulis antologi. Pertama, untuk networking. Dengan menulis keroyokan, kita bisa terhubung dengan penulis lain. Dengan demikan kita berkesempatan berkolaborasi untuk proyek-proyek penulisan di masa depan. Selain itu, tercipta peluang untuk berbagi ide dan pengalaman.

Kedua, berkembangnya keterampilan menulis kita. Dengan mencoba bergabung ke beberapa grup penulisan antologi dengan genre yang berbeda menjadikan kita kaya. Bu Kanjeng mencontohkan dulu beliau tidak bisa menulis puisi, sekarang sudah bisa. Dulu belum mengenal pentigraf, sekarang sudah piawai menuliskannya. Selain itu, meningkatkan fleksibilitas kita sebagai penulis mengingat kita harus mengikuti tenggat waktu yang ditetapkan.

Penulis 21 buku solo tersebut juga membagikan tips sebagai kurator antologi. Pertama, penentuan tema. Pilih tema yang menarik dan relevan agar bisa menginspirasi penulis dan pembaca. Kemudian, rencana penulisan. Susun kerangka tulisan untuk kontributor sejelas mungkin. Ini sangat membantu para penulis pemula agar tulisan mereka sesuai dengan tema yang diharapkan. Setelah naskah masuk maka tim editorial yang bekerja. Ada beberapa lapis editing yang harus dilakukan agar naskah antologi tersebut benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Revisi perlu dilakukan agar naskah menjadi sempurna sebelum masuk ke percetakan.

Sementara untuk para kontributor antologi beberapa tips yang bermanfaat di antaranya masuk komunitas menulis antologi, memiliki komitmen menulis, pastikan kontribusi sesuai dengan tema, mampu membangun narasi yang koheren, naskah bukan plagiat, munculkan kreativitas dan originalitas. Tulisan sebaiknya ditekankan pada pengalaman unik dan sudut pandang pribadi. Jangan lupa meyakinkan pembaca dengan nilai estetika dan keaslian.

Kabar gembiranya di pelatihan tersebut ada beberapa peserta yang memberikan kesempatan bergabung dalam penulisan antologi. Seperti yang ditawarkan oleh bapak Suprihationo terkait penulisan sejarah masjid di nusantara yang berjudul Senarai Masjid Nusantara Seri 2.  Ini mengulang kesuksesan penulisan Senarai Masjid Nusantara Seri 1. Penulisan ini tidak berhenti di seri 1-2 saja, melainkan terus berlanjut sampai penulisan seri-seri berikutnya. Harapannya, penulisan antologi berseri ini akan dikurasi menjadi sebuah ensiklopedia masjid di nusantara.

Selain itu, ada juga penawaran menulis dari Pak Sim terkait perjuangan pasangan dalam merawat anak yang sedang sakit. Intinya, banyak kesempatan yang bisa kita manfaatkan untuk melatih keterampilan menulis. Yang pasti bagaimana kita menyambut tawaran ini dengan senang hati dan bersungguh-sungguh. Meminjam istilah Pak Khoiri-founder RVL- karena pelatihan ini sekadar pemantik. Selanjutnya terserah Anda. Bisa menyelami lebih dalam lagi secara intensif.

Pelatihan ini dibuat berseri untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kita untuk belajar banyak genre tulisan. Sebagai informasi, RVL sudah melaksanakan tiga kali pelatihan. Seri pertama tentang Menulis Opini bersama Pak Khoiri. Seri kedua terkait Pembuatan Blog bersama Abdullah Makhrus. Seri ketiga Penulisan Antologi ini. Seri-seri berikutnya terkait pelatihan menulis catatan perjalanan, karya ilmiah dan sebagainya. Sebagai penutup, Pak Khoiri mengingatkan agar sertifikat bukan menjadi tujuan utama pelatihan yang kita ikuti. Nomor satu kita niatkan mendapat ilmu yang bermanfaat.

Terima kasih Bu Kanjeng, Pak Khoiri, Bu Sumintarsih, dan teman-teman RVL semua atas ilmunya pagi ini. Barakallah.

 

Sidoarjo, 12 Maret 2024

Leave a Reply

Your email address will not be published.