Kejutan

Resolusi saya di awal tahun adalah meminta pada Allah Swt agar menjadikan saya manusia adaptif. Mudah menyesuaikan diri terhadap takdir yang sudah digariskan. Kejutan-kejutan yang sudah disiapkan Yang Maha Memberi Kejutan. Tujuannya agar saya tidak terlalu bergembira jika mendapatkan kebahagiaan. Tidak terlalu bersedih jika mendapat kemalangan. Sedang-sedang saja. Tenang dan tetap berpikir jernih terhadap semua persoalan. Selalu ingat bahwasannya Allah itu dekat.

Dua bulan ini saya coba mempraktikkannya. Akhir Desember 2023 sulung saya mengabari ia lolos seleksi digital challenge sebuah BUMN. Institusi ini sedang mencari manajemen trainee (MT) di bidang IT. Awalnya saya tidak tahu kalau dia sedang apply posisi ini. Yang saya tahu dia sering diskusi, ngezoom sampai malam. Terkadang saya melihatnya berjilbab rapi. Terkadang hanya berpakaian dan jilbab rumahan. Off cam sepanjang zoom.

Putri saya ini sangat bersemangat jika membicarakan politik. Sesekali saya mendengar obrolan dengan teman-teman seusianya. Debat, katanya. Ia kubu 01 sementara sebagian teman-temanya pro 02 dan 03. Saat itu rame-ramenya kampanye calon presiden.

Saya menggodanya, “Mbak-mbak, mending cari kerja. Lebih riil dibanding ngurusi politik.”

“Umiiiiiiik, politik itu juga jadi kewajiban anak muda, “jawabnya enteng.

Itulah mengapa saya terkejut saat ia mengabari lolos seleksi MT di BUMN tadi. Ia sendiri baru lulus sebulan sebelumnya. Kapan ia mencari kerja? Pikir saya. Ternyata zoom yang diikutinya tidak melulu tentang pemilu. Ia juga ngezoom mengikuti seleksi digital challenge MT di atas. Ceritanya, ada 500 kandidat yang lolos. Mereka harus mengikuti pendidikan online selama sebulan.  Dari 500 ini akan disaring lagi menjadi 100. Putri saya termasuk yang 100 itu.

Kejutan itu membuat saya berhenti sejenak. Baru sebulan dia di rumah. Ia habiskan masa kuliahnya di Yogjakarta. Tidak lama lagi dia akan merantau lagi. Kali ini lebih jauh. Jakarta.

Singkat cerita, dia harus segera masuk Jakarta awal Februari 2024. Penutupan pogram. Akomodasi dan transportasi ditanggung penyelenggara. Segala kelengkapan administrasi diselesaikannya dengan cepat. Untunglah, dia sudah sangat mandiri mengurus kebutuhan hidupnya. Justru saya yang harus menata hati.

Sepekan ia di Jakarta, saya menyusulnya untuk mencarikan tempat kos yang layak baginya. Perjalanan yang sangat tidak mudah bagi saya. Saya sudah terbiasa ke mana-mana sendiri. Namun, untuk kasus-kasus tertentu selalu saja terlintas andai saja suami masih ada. Pasti perjalanan Surabaya-Jakarta menjadi perjalanan yang hangat. Segera saya tepis semuanya dan kembali pada doa agar saya menjadi lebih adaptif.

Tiga hari di Jakarta cukuplah bagi saya melihat bahwa si sulung ini bisa diandalkan. SSW-sat set wet. Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain demi mendapatkan kos yang layak. Harus putri. Dekat lokasi kerja. Untunglah, transportasi massa di Jakarta sangat kondusif. Hanya berbekal kartu gesek dengan nilai rupiah yang murah bisa ke mana-mana. Seperti penduduk lokal lainnya, pergerakan si sulung sangat gesit. Saya sendiri merasa kewalahan ketika melihat banyak orang. Bergegas menuju stasiun. Berpindah kereta.  Culture Shock.

Alhamdulillah, kami menemukan kos yang setidaknya sesuai harapan. Khusus putri. Dekat lokasi kerja. Ada penjaganya. Akhirnya saya bisa kembali ke Surabaya dengan tenang.

Sepekan kemudian, ia mengirim foto bersama seorang temannya. Di tengah lautan manusia Jakarta di JIS.

Mbak… mbak…

 

***

Kejutan berikutnya adalah bungsu saya, seorang remaja putri kelas 9. Ia bersekolah berasrama di Malang. Mondok.  Beberapa bulan lalu ia bersikukuh tidak ingin “ngalum”. Tidak mau jadi alumni yang melanjutkan ke SMA di institusi yang sama. Saya tanya apa alasannya tidak mau “ngalum”. Mulanya ia berkilah tentang ingin mencari suasana baru. Selain itu ia ingin meringankan beban saya sebagai single parent. Bagian ini membuat saya tercekat.

Tidak bisa dipungkiri sekolah swasta berasrama membutuhkan biaya lebih tinggi dibanding sekolah konvensional. Menurut saya, layak hal seperti ini karena memang ada biaya makan tiga kali sehari. Sarana prasarana yang memadai bagi pembelajaran.

Si bungsu bersikukuh ingin mencoba peruntungan. Maka mulailah kami bergerak mencari informasi sekolah-sekolah bagus. Ada MAN 2 Malang. Saya sudah mengajaknya survei lokasi jauh hari sebelumnya. Kemudian ia mengajukan MAN IC Pasuruan. Segera saya browsing tentang sekolah ini. Saya baru tahu ada MAN IC di Pasuruan. Setahu saya MAN IC Serpong.

Peminat sekolah seperti ini ribuan sehingga seleksinya pun ketat. Saya berikan motivasi pada si bungsu agar meningkatkan kualitas dan kuantitas belajarnya jika ingin sekolah di sini. Tak lupa melangitkan doa karena salah satu persyaratannya adalah menempati peringkat atas tertentu di jenjang kelas 9. Harus melampirkan surat keterangan sekolah terkait hal tersebut. Yang menjadi kejutan adalah si bungsu memenuhi persyaratan itu.

Di sinilah saya sekarang. Di penginapan MAN 2 Malang. Mendampingi putri saya mengikuti serangkaian tes masuk. Tadi pagi sudah melalui tes akademik berbasis komputer dan tes baca tulis Al Qur’an. Besok pagi tes psikologi. Pekan depan saya juga harus mendampinginya tes MAN IC di Pasuruan. Sungguh, hidup ini penuh kejutan.

Bungsu saya sedang terlelap saat ini. Saya pandangi halus wajahnya.

Adek sayang, semoga Allah memberimu kesehatan, kemudahan, kelancaran, kesuksesan dalam seleksi ini. Barakah ilmunya, Nak.

Allahumma la sahlan. Illa ma jaaltahu sahlan wa anta taj’alu husna idza siktah sahlan…

 

Malang, 24 Februari 2024

12 Replies to “Kejutan”

  1. Ikut bahagia dan memelukmu dalam doa.Terbayang saat ketemu anak wedok pas kopdar 1 ya. Waktu bergulir dengan cepat. Anak saya alumni MAN IC Serpong. Saya juga ikut mengawal saat tes di MAN 4 Semarang. Semangat dan sukses ya. Langkah mereka masih panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.