Menulis dengan Kalimat Pendek

https://www.goodreads.com/book/show/24984825-kalimat-jurnalistik

Dua pekan lebih saya mengamati berita yang dikirim para humas di website Al Hikmah (https://alhikmahsby.sch.id/).  Senang sekali melihat semangat teman-teman mengisi konten website. Rata-rata humas mengunggah 1-7 berita dalam sepekan terakhir ini. Panjang berita yang dikirim antara 100 sampai 300 kata. Terbagi dalam tiga sampai empat paragraf. Saya melihat unsur-unsur dasar berita sudah ada di dalamnya. 5W plus 1 H.

Namun demikian,  saya menemukan masih banyak di antara tulisan tersebut menggunakan kalimat-kalimat panjang. Bahkan ada yang sampai memisahkan kalimat-kalimat panjang tersebut dalam tiga tarikan nafas. Alias tiga tanda koma. Ini masih mending. Ada kalimat yang panjang tak berjeda. Untuk membacanya, saya sampai terengah-engah. Kehabisan napas.

Sebenarnya kalimat-kalimat panjang ini bisa dipotong menjadi beberapa kalimat pendek. Dalam dunia jurnalistik, kalimat pendek ini sangat penting. A.M. Dewabrata dalam bukunya Kalimat Jurnalistik menyebutkan bahwa untuk menulis berita ada beberapa syarat. Di antaranya jelas, jernih, runut, bernalar, tidak ruwet, tidak keruh, serta kata dan kalimatnya populer. Kalau tidak jernih, pembaca akan bertanya-tanya “apa maksud kalimat ini?” Untuk kejernihan ini, berita lebih cocok ditulis dengan kalimat-kalimat pendek.

Kalimat-kalimat pendek lebih mudah dicerna pembaca. Membantu pembaca menemukan isi atau pesan yang ingin disampikan oleh penulisnya. Bukankah tujuan kita menulis agar pesan kita sampai pada pembaca? Tak kalah pentingnya adalah supaya pembaca tidak cepat lelah.

Sebenarnya tidak sulit membuat kalimat pendek. Dibanding menulis kalimat panjang, membuat kalimat pendek jauh lebih mudah. Masalahnya, sering kita terjebak oleh budaya lisan yang lebih kuat. Maunya menceritakan semua isi kepala kita. Isi hati kita. Tanpa terkecuali.  Memuntahkannya sesegera mungkin. Tidak menghiraukan orang yang membaca tulisan kita. Apakah dia paham apa yang kita sampaikan? Zalim ini namanya.

Saya ingin memberi contoh kalimat-kalimat panjang. Saya akan memotongnya menjadi beberapa kalimat pendek. Sebelumnya, saya berharap teman-teman humas tidak keberatan saya menganalisis berita yang telah ditulis.

Sekolah X menyambut awal semester baru (semester genap 2023/2024) dengan semangat yang tinggi. Para siswa yang telah tiba di sekolah pada hari Jum’at 5 Januari 2024, semua berkumpul di Multi Purpose Hall (MPH), sebelum beranjak untuk ke asrama, seluruh barang siswa diperiksa oleh guru dan wali kelas, kemudian setelah selesai, dapat melanjutkan ke asrama masing-masing.

Kalimat yang panjang tersebut bisa kita potong menjadi kalimat-kalimat pendek sebagai berikut.

Sekolah X menyambut awal semester genap 2023/2024 dengan semangat tinggi. Para siswa tiba di sekolah hari Jum’at 5 Januari 2024.  Mereka berkumpul di Multi Purpose Hall (MPH). Seluruh barang siswa diperiksa oleh guru dan wali kelas sebelum beranjak ke asrama. Setelah selesai, mereka menuju ke asrama masing-masing.

Mari kita lihat contoh lain.

Merefleksi awal tahun 2024, Layanan Klasikal oleh tim BK- Bimbingan Konseling di kelas IX SMP Y,  menyajikan tema  Menjadi Visioner. Sebelum pelaksanaan layanan klasikal, konselor melaksanakan ice breaking, tujuannya agar siswa merasa santai menyenangkan dalam menghadapi pembelajaran diawal tahun pelajaran genap tahun 2023-2024. Ice breaking yang dibawakan tentang permainan Komunikata dan Angin Berhembus. 

Terus terang saya bingung membaca awal paragraf ini. Merefleksi awal tahun 2024, Layanan Klasikal oleh tim BK- Bimbingan Konseling di kelas IX SMP Y, menyajikan tema  Menjadi Visioner.

Siapa yang merefleksi? Layanan klasikal? Tim BK? Mungkin bisa kita sederhanakan sebagai berikut.

Untuk merefleksi awal tahun 2024 tim bimbingan konseling (BK) kelas IX SMP Y memberikan layanan klasikal. Layanan tersebut menyajikan tema  “Menjadi Visioner”. Sebelum melakukan layanan klasikal, konselor memberikan ice breaking. Tujuannya agar siswa merasa santai dan senang dalam menghadapi pembelajaran di awal tahun. Ice breaking yang dibawakan adalah permainan Komunikata dan Angin Berhembus. 

Bagaimana? Lebih mudah dibaca bukan? Untuk membuat kalimat pendek, pastikan unsur-unsur kalimat terpenuhi. Setidaknya subjek, predikat, dan objek.

Untuk sementara dua contoh di atas cukup mewakili. Sekali lagi, semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman.  Bukan sebaliknya. Koreksi saya membuat teman-teman enggan menulis. Jangan ya. Mari kita mencoba menulis dengan kalimat-kalimat pendek. Rasakan bedanya.

Surabaya, 16 Januari 2024

Leave a Reply

Your email address will not be published.