Saat ini kita hidup di zaman yang penuh kolaborasi. Revolusi industri 4.0 memaksa kita bekerja secara kolaboratif. Lintas disiplin ilmu, lintas industri, bahkan lintas benua. Namun, siapa sangka ternyata kolaborasi bisa dilakukan lintas alam. Alam nyata dan alam ghaib.
Inilah inti sari kajian tafsir dengan tema manusia yang berkolaborasi dengan jin.
Manusia berasal dari kata nasya-yansa-nisya yang artinya pelupa. Al insan mahalul khatta’ wan nisyan. Manusia gudangnya salah dan lupa. Wajar kalau Allah mengutus nabi dan rasul yang tugas utamanya mengingatkan bukan mengimankan. Ingat yang istimewa adalah ingat pada Allah dan diri sendiri. Dengan kata lain, manusia harus mengenal Allah dan juga dirinya sendiri.
Kalau manusia mengenal dirinya sendiri, tentu ia paham penciptaannya dari unsur bumi, tanah yang melalui tahapan yang banyak. Pertama, bumi diambil debunya. Debu yang bercampur dengan air namanya tin. Tin direndam dalam air yang lama namanya khama’. Khama dikeringkan menjadi sol sol. Ketika sudah terbentuk manusia maka ditiupkan ruh kepada benda yang namanya tanah tadi. Jadilah manusia.
Jin asal namanya adalah segala sesuatu yang tersembunyi, tidak nampak. Dia bisa melihat kita namun kita tidak bisa melihatnya. Seperti halnya manusia, jin juga bermacam-macam tipenya. Ada jin fasikh, namanya iblis. Ia tidak mau bersujud hormat kepada Adam karena gengsi. Ia tercipta dari api sementara manusia dari sari pati tanah. Karenanya, ia diusir dari surga. Namun, ada juga jin yang cerdas dan lihai. Namanya jin Ifrit.
Manusia dan jin adalah dua makhluk yang mendapat taklif atau kewajiban yang sama yaitu beribadah kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Az Zariat (51) ayat 56. Ada yang beriman, kufur, dan munafik. Di antara mereka ada yang mbalela alias membangkang. Mereka inilah yang disebut setan. Setan ini ada dua jenis yaitu dari jenis manusia dan jin. Manusia yang membangkang disebut setan dari jenis manusia sementara jin yang membangkang berarti setan dari jenis jin.
Jauh sebelum Revolusi Industri 4.0 digembar-gemborkan, manusia dan jin sudah bekerja sama, bersinergi atau berkolaborasi. Contohnya, Nabi Sulaiman A.S yang menawarkan tender untuk memindahkan singgsasana Ratu Bilqis dari negeri Saba di Yaman ke Baitul Maqdis di Palestina.
Dalam QS. An Naml (27) ayat: 38-40 disebutkan saat penawaran tersebut dibuka, seorang jin bernama Ifrit berkata, “Aku mampu memindahkan istana itu wahai Raja Sulaiman sebelum Anda sempat berdiri dari tempat duduk.” Ini menunjukkan jin memiliki energi yang sangat luar biasa. Bayangkan, memindahkan istana yang luasnya 2x pulau Jawa itu, yang jaraknya 2000 km dalam hitungan detik.
Namun demikan ternyata ada pesaingnya juga. Ada manusia biasa yang mendapat ilmu dari kitab Allah saat itu yaitu Zabur. Taurat, Injil, apalagi Alquran, belum turun saat itu. Orang ini mampu memindahkan istana tersebut dalam sekejab mata. Nabi Sulaiman A.S. pun bersujud.
Jin punya kemampuan luar biasa. Sampai-sampai ada ide untuk menggunakan energi jin. Maka, orang mulai berkolaborasi dengan jin yang umumnya digunakan untuk yang tidak benar. Black magic, sihir, santet, dan sejenisnya. Masih ingat berita kunjungan George Bush ke Indonesia tahun 2006 silam? Sebagai penolakan kunjungannya, seorang paranormal bernama Ki Gendeng Pamungkas menyiapkan santet. Ia menyebutnya santet lintas wilayah. Katanya, santet Jawa nggak bakalan bisa melumpuhkan orang nomor satu di AS ini. Karena itu, Ki Gendeng menggunakan voodo, santet a la Amerika Latin.
Jangan lupa, jin ternyata punya pamrih seperti kita. Ketika dimintai jasanya, ia akan menagih. Maka Allah mengingatkan dalam QS. Jin (72) ayat 6 yang mengisahkan bahwa dulu sudah ada orang yang meminta pertolongan kepada jin tapi ternyata jin itu menyesatkan. Sesesat-sesatnya.
Cucunya iblis ini meminta kesempatan sampai akhir zaman untuk menggoda manusia. Dia beranak pinak sampai hari kiamat. Kalau menggoda manusia ia akan mengepung dari segala arah. Bahkan jin bisa masuk dalam peredaran darah manusia.
Anehnya, dalam QS. Al An‘Am (6) ayat 128 disebutkan ketika Allah menegur golongan jin karena mereka telah menyesatkan manusia, justru manusia memberikan pembelaan. Ya, manusia yang sudah terikat janji dengan jin tadi. Padahal Allah akan memberikan balasan berupa neraka bagi siapa saja yang bekerja sama dengan jin.
Ancaman neraka seharusnya menahan kita untuk tidak bermain-main dengan jin. Haram hukumnya bagi seorang muslim berkolaborasi dengan jin. Kita optimalkan saja potensi yang ada dalam diri kita dengan ilmu dan teknologi yang ada. Tidak perlu menanda tangani MoU dengan golongan jin. Semoga Allah selalu melindungi kita.
Disarikan dari Kajian Tafsir Prof. DR. H. Moh. Roem Rowi, MA. untuk Pegawai YLPI Al Hikmah Jumat, 18 Sept 2020
Surabaya, 19 September 2020
